18 Mar
2013

Deteksi HIV/AIDS dari Kesehatan Mulut dan Gigi

Ira Widjiastuti  dari Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga memaparkan materi berjudul Restorasi Estetik Resin Komposit.

Ira Widjiastuti dari Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga memaparkan materi berjudul Restorasi Estetik Resin Komposit.

Surabaya, eHealth. Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Surabaya khususnya di Puskesmas, Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengadakan pertemuan dokter gigi secara rutin setiap satu bulan sekali.

Pada pertemuan itu dibuka oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, dr. Sri Setyani. Dalam pembukaan itu ia mengungkapkan, ”Kita harus selalu mengikuti perkembangan, khususnya dokter gigi, juga kita mempunyai pengobatan dan peralatan yang mumpuni,” terangnya saat menyampaikan sambutannya di 62 dokter gigi di Puskesmas dan DKK Surabaya.

Dalam pertemuan itu diberikan tiga materi yaitu Restorasi Estetik Resin Komposit yang disampaikan oleh Ira Widjiastuti dari Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Meteri selanjutnya adalah mengurangi gejala Sinusitis, Asma Alergi, Migren dan Vertigo dengan Bantuan Dokter Gigi yang di sampaikan oleh dr. Haryono Utomo,drg.,sport FKG Universitas Airlangga serta materi Deteksi Rongga Mulut Infeksi HIV/AIDS yang disampaikan oleh Bagus Soebadi dari Departemen Oral Medicine Fakultas Kedoteran Gigi Universitas Airlangga.

Dalam perkembangan kesehatan di Surabaya, Dokter Gigi di Surabaya dituntut untuk bisa mendeteksi HIV/AIDS dengan pemeriksaan gigi dan mulut. Seperti yang telah disampaikan oleh Bagus Soebandi bahwa ODHA terdapat kelainan di rongga mulut berkisar 30-80 persen.

Ia juga menjelaskan bahwa lesi mulut terdapat dugaan infeksi HIV dan Progresifitas infeksi HIV/AIDS. Untuk itu deteksi HIV/AIDS bisa terlihat pada gejala lesi mulut. Hal ini dilakukan karena saat ini ODHA dan Non ODHA masih sulit dibedakan.

Lanjut ia katakan bahwa untuk mendeteksi HIV/AIDS tidak cukup dengan itu saja, namun ditelisik dari riwayat keluarga dan kesehatannya. Pertama deteksinya dari keadaan umum yaitu anamnesis, keluhan utama, status kesehatan dari riwayat penyakit yg derita, keluarga, riwayat pengobatan dan kelainan rongga mulut.

Deteksi juga dilakukana dengan aneamnesis yaitu dengan berkomunikasi atau konsultasi dengan pasien dengan cara menjadi pendengar yang baik, memahami masalah pasien, berkomunikasi dengan bahasa yang dimengerti serta memahami bahasa non verbal.

Dalam pertemuan itu dijelaskan deteksi pada stadium klinis II, III, dan IV. Serta infeksi jamur yang biasa diderita penderita HIV/AIDS, salah satunya adalah candidiasis mulut, ”Dijumpai 25 persen pada pasien terinfeksi HIV dan 90 persen pada pasien AIDS,” ungkapnya.

Jenisnya ada Erythematous Candidosis yaitu kemerahan pada lidah, rasa terbakar, terutama saat makan pedas, asam, asin. Angular Cheilitis yaitu Eritematus pada satu atau kedua sudut mulut dengan atau tanpa ulserasi. Chronic Hyperplastic Candidiasis yaitu Lesi putih hiperplastik tidak dapat dikerok. Dan masih banyak jenis yang lain yang dijumpai pada penderita HIV/AIDS. (Ima)

Slideshow by webdesign