24 May
2013

Surabaya, eHealth. “Kalau ingin jadi kaya, jangan jadi dokter.” Itulah prinsip yang dipegang oleh seorang dr. Dessy J. Setia, Kepala Puskesmas Tenggilis. Profesi dokter, terutama yang bertugas di Puskesmas, menurutnya merupakan suatu amanah yang harus dilaksanakan. Apalagi, bertugas di Puskesmas di kawasan yang tingkat masyarakatnya menengah keatas yang konon memiliki stigma bahwa Puskesmas hanya diperuntukkan bagi warga miskin saja. Namun, sebagai Kepala Puskesmas, ia selalu berinovasi agar bisa menemukan solusi tersebut. Bagaimana sepak terjangnya dalam memimpin Puskesmas di kawasan elit dan awal mula meniti karir di dunia kedokteran, berikut ulasannya.

Dilahirkan di Kota Palembang namun besar di Surabaya, Dessy muda melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 1992 selepas lulus dari SMAN 5 Surabaya. Keinginan untuk menjadi seorang dokter pun telah lama ia impikan sejak kecil meski tidak ada seorangpun yang menginspirasinya untuk memilih profesi dibidang medis ini.

“Jadi dokter merupakan cita-cita saya sejak kecil, mungkin karena ada sifat sosial (dalam diri dr. Dessy) untuk membantu orang lain yang membuat saya mencintai profesi ini,” tukas dokter yang menjabat sebagai Kepala Puskesmas Tenggilis selama 6 tahun ini.

Ia pun menekankan bahwa jika ada orang yang beranggapan menjadi dokter itu bikin kaya, maka anggapan itu salah. “Kalau mau kaya ya jadi pengusaha atau wiraswasta, karena dokter adalah pekerja sosial yang tidak menghasilkan banyak uang,” imbuh dr. Dessy sembari senyum kecil tersungging di bibirnya.

Sebelum bertugas di Puskesmas Tenggilis, dr. Dessy mengawali karir sebagai dokter PTT di Puskesmas Denpasar I medio tahun 1993. Setelah diterima menjadi PNS tahun 1996, ia pindah tugas ke Puskesmas Denpasar II. Tahun 2000, dr. Dessy kembali pindah tugas. Kali ini Puskesmas Ketabang, Surabaya menjadi tempat berlabuhnya sebagai dokter kedua hingga tahun 2006. Setelah itu, Dinkes Kota Surabaya memercayakan dirinya untuk mengemban amanah sebagai Kepala Puskesmas Tenggilis hingga sekarang.

Saat ditanya bagaimana ia menjalankan Puskesmas beserta program-programnya untuk merebut hati masyarakat, khususnya kalangan menengah ke atas yang cenderung apatis terhadap keberadaan Puskesmas, dr. Dessy mengaku membenarkan hal tersebut. Menurutnya, masyarakat elit masih bisa dikatakan belum percaya kepada Puskesmas akan kualitas pelayanan kesehatannya. Namun saat ini lambat laun pandangan itu terkikis saat menerima program-program kesehatan yang selalu digencarkan Puskesmas melalui beberapa kesempatan.

“Tak dipungkiri, awalnya memang susah menembus masyarakat elit disini, tapi kini perlahan-lahan mereka mulai membuka diri  tentang peran dan manfaat dari Puskesmas itu sendiri. Berkat adanya kesempatan untuk berpromosi di salah satu tempat,“ ujarnya dengan semangat.

Cara promosi yang dilakukan Puskesmas yang beralamat di Jl. Rungkut Mejoyo Selatan IV Blok P/48 ini cukup efektif, yakni dengan mempromosikan ke Sekolah Dasar maupun Playgroup yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tenggilis. Pihaknya mempromosikan layanan kesehatan yang biasa dilakukan untuk anak-anak, seperti imunisasi, Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTKA), serta pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan anak. “Disitulah kami bisa berpromosi sekaligus bertemu dengan orang tuanya yang biasa mengantar anaknya ke sekolah,” tukasnya.

Lantas bagaimana dengan peran Posyandu? Ia mengatakan, di wilayah perumahan elit memang tidak terdapat Posyandu. Jadi, ketika ingin memeriksakan anaknya, mereka langsung datang ke dokter spesialis anak.

Ia juga mengaku, sebelumnya masyarakat elit menganggap bahwa obat yang diberikan dokter Puskesmas berbeda dengan dokter spesialis anak. Sejak aktif berpromosi ke sekolah-sekolah, akhirnya masyarakat mengerti tidak adanya perbedaan obat dari Puskesmas dan dokter anak, termasuk imunisasi yang juga menggunakan spet (jarum suntik) steril sekali pakai.

Alhamdulillah, sekarang tanggapan dari warga elit cukup bagus. Setelah ada promosi kesehatan di sekolah, minimal warga elit tahu bahwa Puskesmas juga punya program kesehatan.”

Selain sekolah dan playgroup, Puskesmas juga melakukan promosi kesehatan melalui pendekatan perkumpulan Ibu PKK warga elit yang biasa digelar secara rutin sebulan sekali. Perkumpulan PKK ini selalu mengundang pihak Puskesmas Tenggilis. Nah, kesempatan tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh Puskesmas untuk melakukan kegiatan promosi kesehatan dan juga penyuluhan seperti Demam Berdarah, bahaya Difteri, imunisasi, DDTK, dan juga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Saat ditanya lebih sulit mana mengatasi kalangan bawah dengan kalangan atas, dr. Dessy menjelaskan keduanya tidak ada yang gampang ataupun sulit. Namun, bila ada pertemuan yang melibatkan pihak masyarakat, warga kelas atas ini cenderung tidak hadir. “Jadi warga elit biasanya tidak bisa meluangkan waktunya apabila ada undangan. Otomatis solusinya kita yang kesana (tempat warga) untuk bisa jemput bola seperti kegiatan promosi kesehatan di sekolah dan PKK,” tegas dr. Dessy.

Berkat kepemimpinannya, Puskesmas Tenggilis kini cukup dikenal masyarakat dengan pelayanan kesehatan unggulannya. Disamping pelayanan dasar, Puskesmas ini juga membuka poli LJSS (Layanan Jarum Suntik Steril) yang dikhususkan kepada Pengguna Narkoba Suntik (Penasun). Adanya poli ini bertujuan untuk menekan penularan virus HIV melalui jarum suntik yang tidak steril. Berbagai media penyuluhanpun ia sertakan kepada para Penasun saat memberikan layanan jarum suntik steril ini agar dapat menghentikan ketergantungan terhadap Narkoba tersebut.

Diakhir wawancara, melalui berbagai pelayanan kesehatan yang semakin hari kualitasnya semakin baik, ia berharap agar Puskesmas lebih diterima oleh semua kalangan masyarakat dengan tujuan akhir dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. (Ian)

 

Slideshow by webdesign