06 Dec
2011

Surabaya, eHealth. Raut bahagia masih terpancar dari wajah Titik Hidayati, kader Posyandu Mandiri Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto. Ucapan selamat dari rekan-rekannya sesama kader maupun dari karyawan Puskesmas Tambak Rejo membuat wanita kelahiran Surabaya, 48 tahun yang lalu ini semakin sumringah.

Maklum, Titik baru saja menerima piala sebagai pemenang Lomba Kader Posyandu Teladan Tingkat Kota Surabaya Tahun 2011 yang diserahkan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Surabaya dr. Muhlas Udin, M.Kes yang mewakili Walikota Surabaya di sela acara Roadshow Program Kesehatan dan Pameran Puskesmas wilayah Surabaya Barat, bertempat di Ciputra World Surabaya, hari Selasa (6/12).

Saat bintang tamu yang bertindak sebagai moderator Roadshow, Cak Priyo Aljabar mengajak Titik naik ke panggung untuk berbagi kisah mengenai pengalamannya, ia pun dengan senang berbagi suka dukanya selama menjadi kader Posyandu.

Ibu lima putera inipun menceritakan, dirinya maupun para kader Posyandu lainnya memang harus dituntut sabar saat menghadapi orang tua Balita yang bermacam-macam wataknya, bahkan ada yang cenderung apatis terhadap Posyandu.

“Yang menyakitkan hati kalau dengan ibu Balita yang kurang sadar dengan adanya Posyandu, seperti pernah ada yang mengatakan ‘Walah,, gae opo nang Posyandu, obate lho banyu! (Halah, buat apa ke Posyandu, obatnya loh dari air, Red)’,” ujar Titik menirukan orang tua Balita yang tidak mau membawa anaknya ke Posyandu.

Menurut Titik, orang tua Balita ini menganggap bahwa Posyandu yang semuanya serba gratis, sehingga kualitasnya diragukan. Dengan sabar ia menjelaskan perihal dan kegunaan Posyandu untuk anaknya kelak. Akhirnya lambat laun ibu Balita itupun mau datang ke Posyandunya.

Namun, tutur Titik, itu hanya segelintir kisah duka dibandingkan dengan melimpahnya kisah suka yang dialaminya saat pertama kali menjadi kader Posyandu 16 tahun silam hingga sekarang. “Banyak ilmu yang saya dapat setelah saya menjadi kader Posyandu. Seperti berbagai pelatihan mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD) bagi ibu yang baru melahirkan, pemberian ASI Eksklusif, hingga pengetahuan yang didapat saat keseharian menjadi kader Posyandu,” tukasnya.

Saat tim eHealth mewawancarainya seusai acara berlangsung, ia pun bercerita banyak hal selama menjadi kader Posyandu.

Sejak terpilih menjadi ketua Kader Posyandu Mandiri 6 tahun lalu hingga sekarang, Titik selalu melakukan inovasi untuk memajukan Posyandunya. Seperti adanya kunjungan dari rumah ke rumah, terutama kepada orang tua Balita yang tidak datang ke Posyandu. Meski terbilang sederhana, adanya kunjungan rumah ini diakui berdampak besar bagi kesadaran orang tua Balita. “Mereka merasa diajeni (dihargai, Red) saat saya berkunjung ke rumah, sehingga bulan depannya orang tua Balita akhirnya aktif memeriksakan perkembangan anaknya ke Posyandu,” tutur wanita yang juga menjabat sebagai Ibu RW ini.

Selain itu, ia juga menambahkan beragam APE (Alat Permainan Edukasi) di Posyandunya sebagai mainan anak-anak. Posyandunya juga terkadang memberikan doorprise bagi orang tua Balita saat dilaksanakan penyuluhan. “Biar anak-anak betah di Posyandu, ibu-ibunya juga dengerin saat penyuluhan. Jadi setelah timbang tidak langsung pulang,” ujarnya seraya tersenyum simpul

Saat ditanya keunggulannya menjadi kader Posyandu sehingga tim juri memilih seorang Titik menjadi yang terbaik, dengan tertawa ia mengaku tidak merasa apa keunggulannya sehingga dipilih menjadi kader Posyandu terbaik, bahkan tim juri pun tidak memberitahukannya.

“Mungkin selain inovasi, Posyandu kami juga menerapkan sistem administrasi dan dokumentasi Posyandu secara tertib dan jelas.”  

Memang, ia menerapkan sistem administrasi dan dokumentasi Posyandu secara teratur. Tidak hanya administrasi mengenai kunjungan Balita dan tumbuh kembangnya saja, namun segala hal yang berkaitan dengan Posyandu harus tertera jelas di buku administrasinya.

“Seperti pelatihan-pelatihan yang seringkali kita ikuti, harus jelas pembukuannya, seperti siapa saja kader yang mengikuti pelatihan, pelatihan tentang apa, hingga dokumentasi kegiatan seperti sertifikat pelatihan dan juga disertai tanda tangan dari narasumbernya. Jadi pelaporan administrasinya ini jelas dan tidak terkesan dikarang karena memang ada bukti dokumentasinya.” 

Mengenai keluarganya, Titik bersyukur karena semua keluarganya mendukung apa yang ia lakukan selama ini. “Bahkan anak-anak saya juga sering bertanya mengenai masalah kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak,” ujar Titik yang dua dari lima anaknya memilih jalur pendidikan kedokteran ini. “Yang terpenting saya harus bisa membagi waktu antara kegiatan diluar dengan kegiatan sebagai ibu rumah tangga.”

Di akhir wawancara, wanita yang juga aktif sebagai Ketua Posyandu Lansia Mandiri di wilayah yang sama ini memberikan sedikit pesan kepada kader Posyandu lain. “Lakukanlah pekerjaan (sebagai kader Posyandu) ini secara ikhlas dan tidak terpaksa,” pungkas wanita murah senyum ini. (And)

Slideshow by webdesign