19 Jan
2011

Dicari Penyebab dan Solusi Permasalahannya

Surabaya, eHealth. Sampai tahun 2010, Kota Surabaya telah memiliki Puskesmas dengan standar internasional ISO 9001:2008 sebanyak 18 Puskesmas. Diantara 18 Puskesmas tersebut, 5 diantaranya baru disertifikasi ISO 9001:2008 di tahun 2010. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengevaluasi hasil dari pelaksanaan dan penerapan Puskesmas ber ISO selama tahun 2010.

Evaluasi yang diadakan di Puskesmas Jagir selama dua hari mulai tanggal 19-20 Januari ini membahas kendala yang terjadi selama pelaksanaan di lapangan, serta temuan apa saja yang terjadi selama proses audit eksternal ISO 9001:2008 berlangsung. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Surabaya dr. Sri Setiyani mengatakan, dengan adanya evaluasi ini diharapkan dapat mencari dan memperbaiki temuan-temuan yang terjadi saat sertifikasi di Puskesmas tersebut. “Kita evaluasi apa kekurangan kita (Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Red) di tahun 2010 dalam penerapan ISO 9001:2008, apakah itu temuan minor atau yang lainnya agar di lain hari tidak ada kekurangan (temuan) lagi,” tukas dr. Sri saat memberikan sambutan di hadapan peserta pelatihan.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Dasar Dinkes Kota Surabaya dr. Kartika Sri Rejeki mengungkapkan beberapa temuan yang terdapat saat sertifikasi audit eksternal selama tahun 2010 yang terdiri dari 5 Puskesmas dengan audit sertifikasi dan 13 Puskesmas dengan audit surveilans ISO 9001:2008. Temuan tersebut berupa temuan minor sebanyak 33 poin dari 18 Puskesmas dan temuan observasi sebanyak 5-21 poin dari masing-masing Puskesmas yang telah di ISO. Namun temuan tersebut masih tetap mengantarkan Puskesmas untuk meraih dan mempertahankan sertifikasi ISO 9001:2008 karena tidak adanya temuan mayor atau temuan yang bersifat fatal.

“Temuan minor yang paling banyak diperoleh Puskesmas saat audit berlangsung yakni temuan yang bersifat pengendalian produk dan jasa, yaitu ditemukan kartu stok obat yang tidak sesuai dengan jumlah obat yang ada sehingga jumlah obat tidak dapat dipantau dan Protap penyerahan obat ke pasien juga masih belum ada,” ujar wanita yang akrab disapa dr. Tika ini.

Selain itu, lanjut dr. Tika, masih ditemukan Rekam Medik pasien yang terdiagnosa Diabetes Mellitus namun tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Kedua temuan ini yang paling banyak terjadi saat pelaksanaan audit berlangsung, yakni 8 Puskesmas. Dari temuan tersebut, dr. Tika mencari solusi dengan mengundang staff bidang Jaminan dan sarana Kesehatan untuk duduk bersama dalam memecahkan temuan di atas.

Selain itu, dilakukan juga evaluasi mengenai audit eksternal inter institusi (antar Puskesmas) yang dilaksanakan 13 Puskesmas selama tahun 2010. Dari hasil audit eksternal inter institusi,  tidak ditemukannya temuan minor, melainkan hanya berupa observasi saja. Mereka beralasan karena sama-sama belajar, maka tidak berhak “menjudge” dengan temuan minor.

Dari audit eksternal inter institusi ini pulalah yang membuat Puskesmas dapat membenahi kekurangan-kekurangan yang ada dan akhirnya siap untuk di audit eksternal oleh badan sertifikasi ISO. Hanya saja, mereka menayampaikan saran agar setiap pelaksanaan audit eksternal inter institusi didampingi oleh perwakilan dari Dinkes Kota Surabaya selaku pemegang kebijakan agar juga dapat mengambil keputusan jika terdapat kekurangan.

Sementara itu, konsultan ISO Dinkes Kota Surabaya, Qomaruddin, menyampaikan apresiasinya mengenai keberhasilan Puskesmas di Kota Surabaya dalam mencapai sertifikasi ISO 9001:2008. Ia berpendapat, bahwa Puskesmas di kota pahlawan ini adalah yang terbaik dari Puskesmas lain di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikasi ISO.

Hal ini dikarenakan banyaknya inovasi-inovasi yang dilakukan oleh Puskesmas di Surabaya sangat beragam, baik itu inovasi mengenai program, manajemen dokumen, serta desain interior yang serta merta mematahkan image negatif bahwa Puskesmas adalah tempat pelayanan kesehatan yang kaku dan cenderung statis.

“Bahkan saat saya mendampingi Puskesmas di daerah lain di Indonesia yang menjadi binaan saya untuk meraih sertifikasi ISO, saya menyarankan mereka datang ke Surabaya untuk menimba ilmu mengenai ISO. Karena berbagai program dan inovasi banyak diciptakan disini (Surabaya, Red),” tukas konsultan ISO yang juga sebagai dosen S2 di UGM tersebut.

Namun, selain kelebihan dari Puskesmas di Surabaya, Qomaruddin juga menyampaikan sedikit masukan mengenai kinerja Puskesmas, yakni masih adanya miss komunikasi baik antara karyawan dengan karyawan, maupun karyawan dengan pasien. “Miss tersebut kebanyakan berasal dari pelayanan yang masih belum maksimal dan masih adanya karyawan yang pelit senyum ke pasien,” ujarnya memberikan masukan kepada Puskesmas. Tetapi kekurangan tersebut masih bisa dirubah ke yang lebih baik dengan lebih meningkatkan koordinasi.

“Yang terpenting, jangan alergi dengan yang namanya perubahan,” tutup konsultan ini yang menurut rencananya akan mengirim orang-orangnya untuk memonitor kualitas Puskesmas secara tersembunyi untuk melihat sejauh mana pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas kepada pasiennya. (And)

Slideshow by webdesign