11 Mar
2015

Surabaya, eHealth. Wajah Dyah Nurul Alifa terlihat sembab. Beberapa kali ia menyeka air mata yang jatuh di pipinya. Sambil menggendong Nabila Nur Alifa, putrinya yang baru berusia 18 bulan, ibu muda yang berusia 20 tahun ini tampak serius mendengarkan nasihat dari Wali Kota Surabaya Dr. HC. Ir. Tri Rismaharini, MT saat berada di lokasi bakti sosial kesehatan dan pelayanan terintegrasi Kota Surabaya yang kali ini bertempat di Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung Surabaya, hari rabu (11/03/2015).

IMG_9023e

HARU: Dyah Nurul Alifah (kiri) menyeka air matanya saat bertemu dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terkait kondisi kesehatan Nabila di sela Baksos Kesehatan di Balas Klumprik./And

Dyah tak mengira, orang nomor satu di jajaran pemerintah kota Surabaya ini begitu memperhatikan kondisi Nabila, putrinya, yang memang tengah sakit. Wanita yang kesehariannya kos di daerah Kebraon Gang II ini pun langsung menganggukkan kepala saat Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Risma ini menganjurkan untuk merujuk putrinya ke Rumah Sakit Umum Daerah Bhakti Dharma Husada (RSUD BDH) tanpa biaya alias gratis.

Putri pertama dari pasangan Prastiawan Yudi (24) dan Dyah Nurul Alifa ini memang didiagnosis dokter mengalami gangguan Celebral palsy dan Microcephalus. Namun karena keterbatasan biaya, Nabila hanya bisa dirawat di rumah saja.

Dikutip dari Wikipedia, Celebral palsy yang biasa disingkat CP atau lumpuh otak adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan syaraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berpikir.

Sedangkan Microcephalus yakni kondisi neurologis yang jarang terjadi di mana kepala bayi secara signifikan lebih kecil dari kepala anak-anak lain pada usia dan jenis kelamin yang sama.

Kondisi Nabila diketahui saat Pemerintah Kota Surabaya melalui kelurahan dan Puskesmas tempat orangtua Nabila tinggal melaksanakan pendataan untuk warga kurang mampu yang sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan segera. Karena itu, saat pelaksanaan program Bakti Sosial di Kelurahan Balas Klumprik, Dyah pun menyempatkan diri datang ke lokasi untuk bertemu dengan Wali Kota Surabaya.

Saat mengetahui kondisi yang dialami oleh Nabila, Wali Kota Surabaya Risma pun langsung menganjurkan untuk merujuknya ke Rumah Sakit BDH. Ia pun langsung memerintahkan jajarannya untuk membantu menguruskan persyaratan dokumen yang mungkin diperlukan.

Saat bertemu Dyah, wali kota menyemangati agar Dyah tetap berusaha untuk kesembuhan putrinya. Menurut Risma, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha, termasuk untuk kesembuhan Nabila. Wali kota yang baru mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari ITS Surabaya ini pun berharap agar Nabila bisa sembuh dan dapat bermain kembali dengan teman-teman seusianya. (And)

Slideshow by webdesign