16 Jun
2014

Surabaya, eHealth. Berita mengejutkan, khususnya bagi warga Surabaya. Media daerah, nasional bahkan dunia, semua memberitakan langkah berani Wali Kota Surabaya Ir. Tri Rismaharini menutup lokalisasi yang berada di Surabaya. Mulai dari lokalisasi yang berada di Dupak Bangunsari, Moroseneng Sememi dan yang terbesar se Asia Tenggara yaitu Kawasan Dolly.

Bukan hanya warga Dolly khususnya, warga Surabaya hingga rakyat Indonesia, tertarik untuk mengikuti berita perkembangan penutupan kawasan lampu merah di Kota Pahlawan itu. Tidak mudah, penutupan lokalisasi yang diwarnai kontroversi sengit dan penolakan baik dari Wanita Pekerja Seks (WPS), Mucikari dan warga yang mengais penghasilan dari bisnis haram tersebut.

Setelah penutupan lokalisasi yang berada di Dupak Bangunsari, Moroseneng Sememi dan puncaknya adalah penutupan kawasan lokalisasi Dolly. Tepat pada Rabu malam, 18 Juni 2014, “Deklarasi Penutupan Lokalisasi Dolly” dibacakan di Gedung Islamic Center Surabaya, Jl. Raya Dukuh Kupang 122-124, berjarak sekitar 1 km dari Dolly.

Setelah diadakan deklarasi penutupan itu, Pemerintah Kota memberikan uang konpensasi kepada WPS dan Mucikari. WPS menerima uang sebesar Rp. 5.050.000 dan mucikari menerima Rp. 5.000.000, dari total jumlah 1499 WPS dan 311 mucikari.

Keseriusan Pemkot Surabaya dalam menangani penutupan Dolly tidak terbatas sampai di situ. Pemkot Surabaya juga memeriksa semua WPS yang akan di pulangkan. Pemeriksaan itu dilakukan dengan tujuan agar penyebaran HIV/AIDS tidak meluas ke daerah-daerah. Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 19 – 23 Juni di Makodim Sawahan yang terletak di Dukuh Kupang Utara X no. 6 Surabaya.

Para WPS itu diperiksa darah untuk mengetahui HIV/AIDS. Juga diperiksa VCT (Voluntary Counseling Test) yaitu kegiatan konseling yang bersifat sukarela yang bersifat rahasia yang dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV. Tes HIV dilakukan setelah klien terlebih dahulu memahami dan menandatangani informed consent.

Pada pemeriksaan itu, Maya Kristinawati, pemegang Program Komisi Pemberantas HIV/AIDS mengatakan, para WPS yang sudah diperiksa dan dinyatakan penderita HIV, maka catatan medis dan datanya akan diberikan pada Dinas Kesehatan setempat untuk ditangani di daerahnya masing-masing. ”Misalkan WPS Kota Malang kita akan beri tahu Dinas Kesehatan Malang,” ungkapnya.

Lanjut, Maya mengatakan bahwa untuk mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS di Surabaya setelah penutupan Dolly itu, Dinkes Kota Surabaya sudah bersiap dengan memberikan pelatihan kepada semua Puskesmas untuk bisa mendeteksi penderita HIV/AIDS. ”Semua Puskesmas sudah kami sediakan reagen untuk bisa memeriksa HIV dan sudah kami latih PMTCT,” lanjutnya.

Pelayanan Puskesmas Putat Jaya

Jika sebelumnya Puskesmas Putat Jaya menjadi jujukan para WPS untuk memeriksakan kesehatannya. Setelah penutupan di kawasan Dolly Puskesmas Putat Jaya tetap membuka lebar bagi WPS untuk tetap memeriksakan IMS dan HIV nya. ”Saya tetap menghimbau untuk segera berhenti dari pekerjaannya, tetapi kalau mereka terpaksa melakukan itu, maka saya harap mereka tetap memeriksakan penyakitnya,” ungkapnya kepada tim eHealth.

Setelah penutupan Dolly, kawasan yang biasanya ramai oleh hiruk pikuk para mucikari dan para wanita penjajah seks di kawasan itu, kini sepi. Tidak ada lagi wanita-wanita yang biasanya dipajang di kaca seperti etalase dan para mucikari yang bisa melakukan transaksi.

”Setelah penutupan, bertepatan dengan bulan puasa, tapi setiap tahun menjelang Ramadhan Dolly pasti sepi sudah pulang semua,” ungkap dr. Hartatik, Kepala Puskesmas Putat Jaya.

dr. Tatik begitu ia akrab di sapa, ia mengatakan bahwa sudah jauh-jauh hari sebelum penutupan Dolly menghimbau kepada para WPS untuk segera berhenti dari pekerjaannya. Selain risiko penyakit HIV/AIDS yang ditanggung seumur hidupnya juga akan membawa penyebaran penyakitnya itu.

WPS ini diharapkan bisa memutus mata rantai penuluran HIV/AIDS. Karena WPS merupakan sumber penularan utama. WPS menularkan pada pelanggan, pelanggan yang mempunyai istri, kemudian istri mereka akan melahirkan anak-anaknya. ”Data WPS yang terkena HIV grafiknya tetap tetapi grafik pelanggan makin tinggi setelah itu para istri dan anak-anak,” papar dr. Hartatik saat ditemui di ruangannya, Puskesmas Putat Jaya, Jln. Kupang Gunung V Raya No. 16 Surabaya.

Data penderita HIV kumulatif sejak tahun 1996-2014 adalah 7305 penderita, namun untuk kasus baru Januari hingga Maret 2014 terdapat 223 kasus di Surabaya.

Puskesmas Putat Jaya merupakan salah satu puskesmas yang dekat dengan lokalisasi Dolly maka sejak berdirinya puskesmas Putat Jaya itu memberikan pelayan poli HIV/AIDS dan Poli TB. ”Jika ada pasien menderita TB kami juga memeriksa HIV/AIDS nya, juga bagi ibu hamil kami selalu melakukan VCT sehingga jika ada indikasi HIV/AIDS bisa diketahui lebih dini dan dilakukan penanganan agar anak yang dikandungnya tidak tertular HIV/AIDS,” ungkap dr. Hartatik.

Meski kawasan Dolly sudah tutup, namun Puskesmas Putat Jaya tetap memberikan pelayanan pemeriksaan HIV/AIDS. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi jika masih ada WPS yang tetap melakukan aktifitasnya sebagai penjaja seks. Bahkan Puskesmas Putat Jaya akan membuat klinik berjalan (Klinik mobile) untuk memeriksa WPS liar.

Selain memberikan pelayanan pemeriksaan HIV/AIDS, dr. Hartatik juga tak henti-hentinya memberikan informasi mengenai HIV/AIDS kepada para WPS.

Sekilas tentang HIV yang dijelaskan oleh dr. Hartatik. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab penyakit yang sangat ganas, hanya menyerang manusia yang menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh manusia. Setelah kekebalan tubuh menurun, akan timbul berbagai macam penyakit penyerta atau infeksi opportunistik. Sekumpulan gejala penyakit tersebut disebut AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome).

Virus HIV hanya hidup dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi terutama di dalam darah, air mani (pria), cairan vagina (perempuan), air susu ibu dan cairan-cairan bagian dalam lainnya (ketuban, dll). Virus HIV tidak terdapat pada cairan tubuh seperti keringat, air mata dan air liur.

Penularan HIV yaitu dari seseorang yang terinfeksi HIV (pengidap HIV). Bila seseorang yang masih sehat terpapar atau berhubungan dengan cairan tubuh pengidap HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, air susu dan ketuban maka seseorang akan terpapar HIV.

Tidak hanya itu, kini Dinkes dan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota Surabaya juga mengantisipasi di berbagai tempat hiburan seperti tempat karaoke, panti pijat, kafe, diskotik dan tempat hiburan lain yang disinyalir menjadi transaksi seks. Antisipasinya dengan pembentukan outlet kondom di tempat-tempat hiburan itu serta memberikan media komunikasi informasi dan edukasi mengenai HIV/AIDS.

Saat ini kawasan Dolly yang baru ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya terlihat sepi dari aktifitas wisma yang biasanya beroperasi. Para pemilik wisma (mucikari) mengaku setelah penutupan itu mereka akan membuka usaha.

Salah satunya adalah Mucikari Hariyati (55) dari wisma Sandini yang menerima uang kompensasi, ia mangatakan akan membuka usaha jual telor asin. ”Saya sudah pulang ke kampung saya di Lamongan, memang saya sudah punya keinginan untuk berhenti, sudah saya tutup, ijinnya sudah saya kasihkan bapak lurah, saya mau jualan telur asin,” ungkapnya kepada tim eHealth.

Ia mengaku sudah menjalankan bisnis wisma Sandini sejak tahun 1990 yang berada di gang 6 Putat Jaya itu. Ia nekad membuka bisnis haram tersebut lantaran terdesak ekonomi yang kurang. ”Sejak saya ditinggal suami saya meninggal, anak saya tiga masih kecil-kecil semua, kemudaian saya buka Wisma Sandini ini, saya ingin menyekolahkan anak saya hingga sukses,” ungkapnya.

Setelah menerima uang kompensasi itu, Hariyati (55) sudah rela menutup wismanya dan membuka usaha jual telur asin. ”Anak saya tiga sudah sukses semua, yang pertama menjadi perawat yang kedua menjadi guru dan satunya lagi masih kuliah, saya jual telur asin hanya untuk makan saja,” ungkapnya.

Sejarah Dolly

Ada beragam kisah terkait awal berdirinya Dolly. Antara lain yang menyebutkan bahwa nama Dolly diambil dari nama salah satu perintis usaha prostitusi, seorang perempuan keturunan Belanda bernama Dolly van de Mart. Ia membuka sebuah wisma dengan perempuan-perempuan cantik yang utamanya digunakan untuk melayani tentara Belanda ketika itu.

Hal itu ia lakukan karena rasa sakit hatinya akibat sering ditinggal pergi berlayar oleh sang suami yang merupakan pelaut Belanda.

Karena pelayanan yang memuaskan, para tentara pun kembali ke wisma itu. Bahkan, sejumlah masyarakat pribumi juga penasaran dengan pelayanan dan keberadaan perempuan di rumah bordil tersebut. Rumah bordil itu pun menjadi ramai.

Kisah lain yang hampir serupa menyebutkan, kompleks ini awalnya merupakan pemakaman Tionghoa meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede. Kisah itu disebutkan pada buku berjudul Dolly ”Membedah Dunia Pelacuran Surabaya”, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly oleh Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar, yang diterbitkan oleh Grafiti (1982). Awalnya, penelitian itu merupakan skripsi Tjahjo dari FIP Unair Surabaya yang kemudian dibukukan.

Pada tahun 1960-an, makam-makam tersebut dibongkar dan sebagian besar dijadikan permukiman. Sekitar tahun 1966, muncullah para pendatang yang kemudian menetap di kawasan itu. Dan tercatat pada 1967, datang seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tante Dolly. Ia menikah dengan pelaut Belanda dan mendirikan rumah bordil pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I.

Keberadaan rumah pelacuran itu banyak membuat orang penasaran. Bahkan, sosok Tante Dolly juga membuat banyak lelaki hidung belang datang ke tempat tersebut. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mendirikan usaha di sekitar wisma milik tante Dolly.

Kawasan itu kemudian dikenal dengan sebutan Gang Dolly yang juga bersebelahan dengan kawasan prostitusi Jarak. Namun, nama Dolly-lah yang lebih santer. Puluhan wisma bermunculan mulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur, hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.

Selain lokasi yang strategis, cara menjajakan pelacur di tempat ini juga cukup dramatis sehingga menjadikan Dolly sangat terkenal. Para pemuas nafsu itu akan dipajang di ruangan berkaca layaknya etalase. Dengan begitu, lelaki yang datang akan bebas memilih dengan siapa ia mau ditemani.

Karena dianggap sebagai perintis, Dolly dipakai sebagai nama kompleks secara keseluruhan. Tentu saja, nama tidak resmi, tumbuh dari mulut ke mulut.

Kisah melegenda Dolly kini akan tinggal cerita. Sebab Wali Kota Surabaya yang disebut “Srikandi” oleh Mensos Salim Segaf, telah resmi menutup lokalisasi ini pada 18 Juni 2014. (Ima)