23 Sep
2015

Couple Community Kuatkan Perempuan Penderita HIV

Anik yang sudah tergabung dengan couple comunity sejak 2 tahun lalu, ingin bermanfaat dan menolong bagi sesama

Anik yang sudah tergabung dengan couple comunity sejak 2 tahun lalu, ingin bermanfaat dan menolong bagi sesama

Surabaya, eHealth. Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, Anik P. (56) sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tidak pernah terbayangkan bahwa ia mempunyai seorang suami pecandu narkoba. Kenyataan pahit harus ia terima tatkala mengetahui sang suami adalah pencandu narkoba. Namun, ia tidak menyerah begitu saja, segala upaya dilakukan untuk menghilangkan kecanduan sang suami.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyembuhkan kecanduan suaminya, yaitu dengan merehabilitasi suami. Belum sembuh dari penderitaan itu, suaminya diketahui menderita HIV-AIDS yang akhirnya merenggut nyawanya. Setelah melalui pemeriksaan, suami divonis mengidap HIV-AIDS.

”Vonis itu seperti petir yang menyambar di hati saya, tapi saya masih bisa berfikir untuk memeriksakan diri, tidak mungkin saya tidak tertular hidup dengan pasangan saya selama 20 tahun yang mengidap HIV,” ungkap Anik yang juga ketua Couple Comunity itu.

Setelah ia melakukan pemeriksaan di UPIPI RS. dr. Soetomo, benar dugaannya yaitu ia positif HIV yang tertular dari suami. Bingung tidak tahu harus berbuat apa dan bagimana. Ia pun tidak memahami apa itu HIV. Dari pengalaman itu, Anik bersama empat teman lainnya yang juga pengidap HIV mendirikan komunitas kecil dengan nama Couple Comunity.

Couple Comunity adalah komunitas perempuan dengan penderita HIV yang didirikan pada tahun 2011 oleh sebagian kecil penderita HIV di Kota Surabaya ini. Hingga kini, komunitas ini berkembang, yang dulunya hanya mempunyai 5 anggota saja, kini komunitas ini mempunyai 150 anggota. Anggotanya khusus dari Surabaya.

”Dulu komunitas ini masih kecil, tidak ada biaya, namun kita tidak patah semangat kita teruskan komunitas ini untuk membantu saudara-saudara kita yang terinfeksi HIV, menyalurkan pengetahuan kita agar mereka tidak berkecil hati dan memperbaiki kualitas hidupnya serta mandiri,” terang Anik yang bekerja sebagai marketing perumahan itu.

Couple Comunity ini bertujuan untuk menampung para penderita HIV yang rata-rata tertular dari pasanganya. ”Banyak dari teman-teman itu tidak mengetahui bahwa ia tertular HIV dari pasangannya, dengan komunitas ini mereka bisa share mengenai apa itu HIV dan pengalaman pengobatannya,” ungkap ibu dengan tiga anak itu.

Setiap bulan komunitas itu berkumpul, kegiatannya yaitu materi, senam serta sharing untuk meningkatkan pengetahuan tentang HIV serta kesehatan reproduksi (kespro). Beberapa materi yang sudah di dapat antara lain tentang IMS, juga bagaimana menyiasati dari efek samping pengobatan ARV (anti retroviral). Diketahui bahwa efek samping setiap orang ketika mengkonsumsi ARV berbeda.

Tidak hanya berjuang untuk hidup, berbagai masalah sosial juga kerap di dapat bagi penderi HIV, salah satunya adalah stigma yang menyudutkan mereka. Banyak diantara mereka yang dikucilkan, dikeluarkan dari pekerjaannya karena menderita HIV. Untuk itu mereka ingin berdikari sendiri dengan membuka usaha seperti warung kopi, katering dan persewaan mainan anak.

”Rata-rata kan kita ini single parent (orang tua tunggal, Red), ditinggal suami meninggal karena terinveksi HIV, kami ingin tetap sehat, berdikari sendiri agar bisa mandiri dan mencari uang sendiri buat menghidupi anak-anak kami,” tegas ibu setengah baya ini.

Perjuangan untuk keluar dari keterpurukan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, berjuang dari stigma tetangga, keluarga serta berjuang untuk tetap sehat dan berjuang untuk hidup lebih baik.

”Semua penyakit itu sama, belum tentu yang tidak terinveksi HIV hidupnya lebih panjang, kami tetap optimis untuk bisa sehat dan hidup lebih lama,” harap ibu dengan tiga cucu itu.

Lanjut, ia berharap pemerintah untuk memperhatikan komunitasnya yang terinfeksi HIV, terlebih bukan karena kesalahannya, tetapi tertularkan oleh pasangannya. ”Pemerintah mohon tengoklah kita yang terinfeksi HIV ini,” ungkapnya. (Ima)

Slideshow by webdesign