31 Jul
2018

Targetkan Cakupan ORI Difteri 100 Persen

TARGET 100 PERSEN : Kpela Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Mira Novia saat memberikan penjelasan dalam dialog interaktif RRI Surabaya di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. /Foto : Andi Sahrial

Surabaya, eHealth. Bulan Juli dan Agustus tahun 2018 ini Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan mengadakan pemberian imunisasi difteri secara serentak dengan gerakan Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri tahap II.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr. Mira Novia, M.Kes menjelaskan bahwa sampai saat ini cakupan pemberian imunisasi sudah mencapai 58,4 persen dari 785.904 sasaran. “Sampai akhir Agustus, kami (Dinkes Kota Surabaya, red) targetkan mencapai 100 persen,” tukas dr. Mira seusai mengisi dialog intraktif bersama Radio Republik Indonesia dan Unicef yang dihelat di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, hari Selasa (31/07/2018).

(Klik : Foto-foto Dialog Interaktif ORI Difteri Bersama RRI Surabaya dan SD Muhammadiyah 4 Pucang)

Lanjut ia sampaikan, dalam setahun ada tiga kali kegiatan ORI Difteri, tahap pertama bulan Februari-Maret 2018, tahap kedua bulan Juli-Agustus dan tahap ketiga bulan November-Desember. Rentang usia yang mendapatkan imunisasi difteri dalam kegiatan ORI Difteri ini mulai 1 – 19 tahun. “Sama seperti putaran pertama (bulan Februari-Maret), pemberian imunisasi difteri dilakukan di Posyandu, Puskesmas, PAUD, sekolah, maupun klinik kesehatan lain.”

Sedangkan untuk usia 19 tahun, lanjut dr. Mira, biasanya sudah kuliah, Dinkes Kota Surabaya bekerjasama dengan pihak universitas dan minta bantuan tenaga dari rumah sakit untuk membantu pemberian vaksin.

Pada tahap pertama ORI Difteri, jumlah sasaran yang dicapai oleh Dinkes Kota Surabaya yakni mencapai 99,44 persen dari sasaran yang ada, yakni 772.840 orang.

AGAR KEBAL DIFTERI : Salah satu siswa SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya diberikan imunisasi Difteri oleh petugas Puskesmas. /Foto : Andi Sahrial.

Di tahap kedua sosialisasi ORI Difteri ini lebih ditingkatkan, khususnya pada daerah yang sebelumnya belum mencapai 100 persen.

“Biasanya di daerah utara antara Surabaya dan Madura, karena biasanya mau pelaksanaan (imunisasi difteri) mereka pulang ke Madura. Yang perbatasan Gresik juga. Surabaya ini mobilitas penduduknya tinggi.” ujarnya.

Saat ditanya mengenai adanya warga yang menolak imunisasi, diakui oleh dr. Mira masih ada yang menolak, namun jumlahnya hanya sedikit karena sudah rutin dilakukan sosialisasi. “Kami menggandeng pihak MUI, Kemenag, organisasi keagamaan sperti NU, Muhammadiyah, Aisiyah untuk membantu menjelaskan manfaat imunisasi dari sisi agama.”

Perlu diketahui penyakit difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Namun penyakit yang menular melalui percikan ludah maupun kontak langsung dengan pasien ini dapat dicegah dengan imunisasi.

Selain itu, perilaku hidup bersih dan sehat juga harus diterapkan agar kesehatan tetap terjaga. (And)