08 Jan
2019

Serap Aspirasi Kader Bumantik Kota Surabaya

Surabaya, eHealth. Lebih dari 500 kader Ibu Pemantau Jentik (Bumantik) berkumpul di ruang serbaguna Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya (Bappeko), hari Selasa (08/01/2019). Mereka diundang oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam rangka kegiatan Monitoring, Evaluasi dan Perencanaan kegiatan Bumantik tahun 2019.

Pertemuan ini bertujuan sebagai wadah aspirasi untuk kader Bumantik dari Pemkot Surabaya terkait pengalaman Bumantik saat melaksanakan kegiatan pemantauan jentik nyamuk di masyarakat. sehingga dengan adanya pertemuan bersama Kader Bumantik ini, Pemkot Surabaya bisa menentukan langkah dan kebijakan yang diambil dalam menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi, ST, MT dalam sambutannya menyampaikan bahwa kasus DBD dari tahun ke tahun di Kota Surabaya semakin menurun. Salah satu kunci sukses turunnya angka DBD di kota pahlawan ini adalah sepak terjang Bumantik yang turun ke rumah-rumah warga untuk memantau jentik nyamuk dan juga menyosialisasikan bahaya penyakit DBD ke masyarakat di lingkungannya.

Dalam pertemuan tersebut, Eri Cahyadi meminta masukan dari para Bumantik tentang apa saja yang menjadi kendala saat melaksanakan tugas sebagai Bumantik di masyarakat. Mendengar hal tersebut, spontan Bumantik langsung menyampaikan aspirasinya di hadapan Kepala Bappeko dan juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya drg. Febria Rachmanita, MA.

Beberapa permintaan tersebut diantaranya adalah pemberian rompi atau seragam khusus yang menandakan mereka sebagai kader Bumantik, lalu ada yang ingin kenaikan uang transport Bumantik. Ada juga yang mengusulkan adanya ID Card yang berfungsi sebagai tanda pengenal resmi sebagai Bumantik, sehingga tidak ada masyarakat yang menolak saat rumahnya dikunjungi oleh Bumantik.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Surabaya dr. Daniek S, M.Kes dihadapan kader Bumantik memaparkan data tren penyakit DBD di Kota Surabaya cenderung terus menurun dari tahun ke tahun, seperti tahun 2016 dengan 938 kasus DBD, lalu tahun 2017 turun menjadi 325 kasus, dan di tahun 2018 kembali turun dengan 321 kasus DBD di kota pahlawan ini.

Ia pun kembali mengingatkan bahwa kita jangan terlena dengan capaian ini, namun terus digalakkan tentang sosialisasi pencegahan DBD dengan 3M plus. Apalagi berdasarkan data, bulan Januari – April adalah puncak dari kasus DBD. Hal ini dikarenakan musim penghujan yang menjadi waktu utama nyamuk aedes aegypti untuk berkembang biak. (And)