17 Jan
2018

Surabaya, eHealth. Bulan Februari mendatang, Dinas Kesehatan Kota Surabaya akan melaksanakan imunisasi massal pemberian vaksin untuk pencegahan penyakit difteri melalui program Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri. Langkah ini dilakukan sebagai respon cepat terhadap berkembangnya kasus difteri di Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, drg. Febria Rachmanita, MA meyampaikan bahwa tahun 2017 di Kota Surabaya terdapat 29 kasus suspect difteri, dimana dari hasil laboratorium sebanyak 28 orang dinyatakan negatif difteri. Namun di akhir bulan Desember 2017 ada satu warga yang dinyatakan positif difteri.

“Nanti kita akan lakukan program ORI diseluruh tingkat kecamatan dan kelurahan, kita lakukan secara massal,” ujarnya saat melakukan jumpa pers di Kantor Bagian Humas Pemkot Surabaya, Rabu, (17/01/18), siang.

Sasaran dari program ORI, kata wanita yang akrab disapa drg. Fenny, adalah usia mulai satu tahun hingga dibawah 19 tahun. Penyakit difteri ini sangat mengerikan dan bisa menyebabkan kematian. Menurutnya, tanda-tanda jika seseorang terkena penyakit difteri akan mengalami kondisi demam, sakit pada tenggorokan, kemudian dipangkal tenggorokan terdapat selaput abu-abu yang bisa membesar dan menyumbat aliran saraf dan jantung, sehingga dapat menyebabkan kematian.

“Kita punya sasaran untuk yang dibawah 19 tahun mencapai sekitar 753.498 orang. Usia 19 tahun kurang sehari juga tetap akan kita lakukan imunisasi,” ujar Kadinkes.

Data dari Dinkes menyebutkan, tahun 2017 penyakit difteri menyerang usia dibawah 10 tahun mencapai 24 orang, sedangkan usia 26 hingga 30 tahun sebanyak 3 orang, dan terakhir satu orang dengan usia lebih dari 60 tahun. Seseorang bisa terkena penyakit difteri dikarenakan imunisasi dasarnya tidak lengkap.

Ia mengatakan, Program ORI kedepan akan dilaksanakan dengan tiga tahapan, pertama pada bulan februari 2018 mendatang, kemudian bulan juni dan yang terakhir pada bulan desember.

Febria menegaskan, pihaknya akan menyiapkan sekitar 6.677 pos-pos untuk mendukung berjalannya program ORI, dengan dibantu dari satgas, DP5A dan OPD terkait. Selain itu, pihaknya mengaku juga sudah bekerjasama dengan rumah sakit dan perguruan tinggi, dengan total tenaga vaksinator sebanyak 1.093 orang.

“Untuk vaksin khusus sasaran usia 19 tahun kebawah, nanti akan disiapkan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim),” tuturnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya juga mempunyai kebijakan program yang sama diluar ORI Difteri, sekitar 9.000 petugas lapangan juga akan dilakukan imunisasi. Dimana sasarannya adalah para petugas lapangan seperti Satpol PP, satgas, petugas kebersihan, dan petugas kesehatan yang rentan terhadap penyakit.

“Seluruh satgas lapangan yang rentan terhadap penyakit juga akan kita lakukan imunisasi tetanus, difteri, dan hepatitis,” ungkapnya.

Selain itu, Pemkot juga melanjutkan program kebijakan imunisasi Human Papillomavirus (HPV), sebagai langkah pencegahan meningkatnya penderita kanker serviks atau yang dikenal dengan kanker leher rahim. Pemberiam imunisasi HPV dilakukan kepada siswi kelas 5 SD. “Memang usia yang terbaik itu sekitar 11 sampai dengan 13 tahun, imunisasi akan kita berikan sebanyak tiga kali,” tutupnya. (And)