10 Feb
2017
PSN di Masjid

Petugas Sanitasi Puskesmas Sidotopo memeriksa tempat penampungan air minum di selasar Masjid Agung Sunan Ampel saat melaksanakan gerakan PSJN. /Foto : Andi Sahrial

Surabaya, eHealth. Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan terus gencar melakukan gerakan pemberantasan Sarang Jentik Nyamuk (PSJN) di Kota Surabaya. Setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan di rumah-rumah warga, pabrik, perkantoran, gudang, kali ini gerakan PSJN menyasar ke tempat ibadah seperti masjid dan Pondok Pesantren.

Kegiatan yang melibatkan seluruh pegawai Dinas Kesehatan Kota Surabaya, petugas Promkes dan Sanitasi Puskesmas se-Surabaya, serta Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di Surabaya ini melakukan gerakan PSJN serentak di 1703 masjid dan 81 Pondok Pesantren di Kota Surabaya, hari Jumat (10/02/2017).

Salah satu masjid yang menjadi sasaran gerakan PSJN adalah Masjid Agung Sunan Ampel. Bersama tim dari Puskesmas Sidotopo, tim eHealth juga turun ke masjid yang menjadi jujugan ribuan peziarah setiap harinya ini dengan memeriksa 31 tempat penampungan air, seperti kamar mandi pria dan wanita, tempat wudhu, hingga tempat minum untuk peziarah.

Selama satu jam mengelilingi Masjid Agung Sunan Ampel, dari 31 tempat penampungan air, terdapat satu gentong untuk minum peziarah yang positif terdapat jentik nyamuk. Dengan adanya temuan tersebut, tim eHealth menyarankan kepada pengelola masjid untuk membersihkan gentong minimal seminggu sekali.

Selain Masjid Agung Sunan Ampel, tim eHealth juga berkunjung ke Pondok Pesantren Uniq di daerah Petukangan Sidotopo. Di Ponpes tersebut, tim juga menemukan jentik nyamuk di dispenser air minum meski kamar mandi dan bak air untuk masak bebas dari jentik nyamuk.

Dalam gerakan PSJN ini, juga dilakukan sosialisasi kepada pemilik atau pengelola tempat ibadah dan Pondok Pesantren untuk lebih meningkatkan pencegahan terhadap kasus penyakit demam berdarah dengue di kota pahlawan ini.

Sebagian besar para pengelola tempat ibadah mengaku sudah melaksanakan gerakan PSJN di masing-masing tempat minimal seminggu sekali. Namun yang selalu terlewat dalam pemberantasan sarang nyamuk tersebut yakni mereka hanya terfokus pada kamar mandi, sedangkan tempat penampungan air lainnya terlupakan, seperti wadah dispenser, tatakan pot bunga, hingga tempat minum di sangkar burung. Sehingga tanpa ia sadari, penyebaran nyamuk aedes aegypti yang menjadi vector penularan penyakit demam berdarah dengue masih terus ada.

Memang, sejak bulan Januari setelah adanya pencanangan Gerakan PSN di Kota Surabaya oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Dinkes Kota Surabaya terus menggalakkan PSJN di berbagai lokasi. Tercatat sudah tiga kali pelaksanaan PSJN serentak yang dilakukan oleh Dinkes Kota Surabaya, yang pertama menyasar di rumah–rumah warga, yang kedua di tempat-tempat umum, seperti pabrik, sekolah, gudang dan kantor, dan kali ini menyasar tempat ibadah yakni masjid dan Pondok Pesantren.

Kegiatan PSJN oleh Dinkes Kota Surabaya akan terus rutin dilaksanakan hingga dapat terus meminimalisir kasus penyakit demam berdarah dengue.

Tercatat di tahun 2016, kasus penyakit demam berdarah dengue di Kota Surabaya sebanyak 938 kasus. Data tersebut meningkat dari tahun 2015 yang tercatat sebanyak 640 kasus demam berdarah. Namun, untuk kasus kematian menurun menjadi 7 kasus meninggal dunia di tahun 2016, dibandingkan tahun 2015 yang mengakibatkan 13 orang meninggal dunia akibat demam berdarah dengue.

Dinkes Kota Surabaya sangat mengharapkan peran aktif masyarakat untuk turut mencegah demam berdarah dengue, karena apabila seseorang terkena demam berdarah dengue, sangat banyak kerugian yang diderita, seperti hilangnya waktu bekerja karena dirawat di rumah sakit, pengeluaran keluarga yang membengkak, hingga risiko terjadinya meninggal dunia. (And)