17 Jan
2018

Surabaya, eHealth. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya langsung bertindak cepat saat menemukan anak yang terkena dampak buruk dari pengaruh lokalisasi. Y, inisial anak perempuan yang berusia delapan tahun ini sudah mengalami ketergantungan terhadap seksual (sex addict).

Hal ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Pengendalian Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya, Nanis Chairani dihadapan wartawan di kantor Bagian Humas Pemkot Surabaya, hari Rabu (17/01/2018).

Nanis mengungkapkan, kasus ini ditemukan saat Walikota Surabaya memerintahkan jajarannya di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk mencari warganya yang sedang mengalami kondisi buruk, dan akhirnya ditemukanlah keluarga di kawasan Kenjeran Surabaya yang menderita penyakit Tuberkulosis (TB).

Setelah dilakukan perawatan dan pendekatan ke keluarga tersebut, akhirnya sang ibu juga bercerita kepada petugas bahwa salah satu anaknya mengalami perilaku seksual yang menyimpang, yang artinya si anak sudah berperilaku seksual seperti dewasa meski usianya masih sangat muda.

“Kami kemudian lakukan outreach lebih dalam, dan melakukan koordinasi bersama puskesmas, untuk diberikan pengobatan. Saat ini juga sudah dilakukan pendampingan oleh psikolog,” terang Nanis.  

Ia melanjutkan, perilaku Y didapatkan saat sebelumnya ia tinggal bersama neneknya di kawasan eks lokalisasi Dolly. Saat itu, usianya baru dua tahun. Lambat laun, karena faktor lingkungan sekitar yang membuat Y mengalami perilaku sex addict. Perilaku Y diketahui saat ia tinggal bersama ibunya saat sang ibu mengetahui Y mempraktikkan perilakunya dihadapan adik-adiknya.

“Dari pengakuan anak tersebut, ia diajari oleh orang dewasa, pada saat dia tinggal bersama dengan neneknya,” ujarnya.

Menurut Nanis, keberadaan lokalisasi memang sangat membahayakan, utamanya berpengaruh merusak otak maupun perilaku terhadap anak. Terdeteksinya anak-anak seperti itu harus segera digali lebih dalam, mungkin juga belum ditemukan anak-anak dengan kondisi mengalami kasus yang sama. Sangatlah tepat langkah yang diambil ibu wali kota, lokalisasi yang sudah sekian puluh tahun akhirnya ditutup, walaupun ada pro dan kontra saat penutupan.

“Tujuan utamanya bagaimana supaya anak-anak bisa tumbuh berkembang dengan wajar dan bisa berprestasi, bisa mempunyai masa depan yang cerah untuk Bangsa dan Negara,” imbuhnya.

Perlu diketahui, DP5A mempunyai lembaga yang khusus menangani terkait permasalahan anak dan perempuan, lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan Dan Anak (PPTP2A) di lingkup kota, dan Pusat Krisis Berbasis Masyarakat (PKBM) di lingkup kecamatan. Warga Surabaya bisa datang langsung ke tempat tersebut untuk mendapatkan informasi terkait permasalahan anak dan perempuan.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya drg. Febria Rachmanita, MA menyampaikan, untuk memulihkan kondisi anak tersebut, saat ini pihaknya mengaku telah melakukan pendampingan, baik dari segi pengobatan maupun pendampingan dari segi psikiater dan psikolog.

“Untuk menangani pasien seperti ini, tidak hanya pasiennya saja, keluarganya pun kita ajak, jadi keluarga itu kita gali juga dari psikolog,”ungkap Febria.

Selain itu, dokter gigi yang akrab disapa drg. Fenny juga menyampaikan, pihaknya terus melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat, sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan terhadap permasalahan anak. “Dengan melakukan pengawasan terhadap anak, diharapkan tidak terjadi lagi kasus yang tadi,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser menambahkan, jika masyarakat menemukan kasus serupa, silahkan menyampaikan informasi tersebut kepada pihak kelurahan ataupun kecamatan. “Bisa juga langsung melalui DP5A, telpon Command Center 112, dan Puspaga (Pusat Pengaduan Seputar Masalah Keluarga), banyak hal konseling untuk menyelesaikan masalah-masalah anak ini,” tutupnya. (And)