06 Jan
2018

Surabaya, eHealth. Kota Surabaya masih kekurangan tenaga dokter gigi maupun dokter gigi spesialis. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, drg. Febria Rachmanita, MA saat menyampaikan materinya yang bertema “Peluang Praktek Kedokteran Gigi Ditinjau Dari Perspektif Kebijakan Kesehatan” dalam seminar “Safety – Ethics – Aesthetic In Dentistry” yang diselenggarakan oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Kota Surabaya, hari Sabtu (06/01/2018).

Lebih lanjut Kepala Dinas yang akrab disapa drg. Fenny ini mengatakan, jumlah data dokter gigi yang ada di Kota Surabaya totalnya sebanyak 1.419 dokter, yang terdiri dari 1.019 dokter gigi umum dan 400 dokter gigi spesialis. Sementara itu fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Surabaya masih banyak yang membutuhkan tenaga dokter gigi.

Melalui slide yang ditampilkan, ia mencontohkan jumlah dokter gigi yang tersedia di Puskesmas saat ini sebanyak 146 dokter gigi, sedangkan kebutuhan di Puskesmas mencapai 272 dokter gigi, sehingga di Puskesmas saja masih butuh 123 dokter gigi lagi. Sedangkan untuk Rumah sakit kelas C, ketersediaan dokter gigi umum masih terpenuhi, namun untuk dokter gigi spesialis masih butuh 38 dokter gigi spesialis. Begitu juga di Rumah Sakit Khusus masih membutuhkan dokter gigi dari jumlah ketersediaan dokter gigi yang ada, baik dokter gigi umum maupun spesialis.

Selain jumlah kebutuhan dokter gigi di Surabaya, drg. Fenny juga menjelaskan perihal Program Kesehatan Gigi dan Mulut di kota pahlawan ini. Program yang dilaksanakan oleh Dinkes Kota Surabaya sejak tahun 2016 ini bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk kegiatan peningkatan kesehatan gigi dan mulut yang meliputi pencegahan, pengobatan, dan pemulihan kesehatan gigi dan mulut.

Kegiatan program kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan oleh 63 Puskesmas di Kota Surabaya dengan beragam cara seperti sosialisasi pencegahan karies gigi pada ibu hamil dan anak serta pemicuan karies gigi dengan sasaran murid TK dan SD.

Drg. Fenny juga menyampaikan perkembangan kasus kesehatan gigi dan mulut dengan 10 penyakit terbanyak tahun 2017 dengan kasus tertinggi yakni periodontitis kronis dengan kehilangan jaringan periodontal ringan/sedang. Diikuti oleh nekrosis pulpa, karies email/karies dentin, peristensi gigi sulung, gingvitis akibat plak mikroba, pulpitis irreversible, abces periodontal, abces periapikal, yang terakhir gangguan perkembangan dan erupsi gigi.

Materi selanjutnya dari Kadinkes yakni tentang alur perizinan bagi dokter gigi secara online melalui Surabaya Single Window (SSW) di ssw.surabaya.go.id. drg. Fenny menjelaskan, sekarang semua perizinan dilakukan di UPTSA (Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap), namun tanda tangan tetap di Dinas Kesehatan. “Jika semua persyaratan perizinan telah terpenuhi, kami akan memproses (izin) paling lambat 12 hari kerja. Jika lebih dari 12 hari kerja, maka kami (Dinas Kesehatan Kota Surabaya) yang mengantarkan sertifikat tersebut ke rumah pemohon. Satu lagi, semua perizinan gratis,” ujar dokter gigi alumnus Universitas Prof. Dr. Moestopo ini. (And)