20 Nov
2017

Surabaya, eHealth. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) termasuk anak dengan disabilitas yang juga merupakan salah satu sumber daya manusia bangsa Indonesia yang harus ditingkatkan, tidak hanya sebagai obyek pembangunan tetapi juga harus menjadi subyek pembangunan.

Anak dengan disabilitas perlu dikenali dan diidentifikasi dari kelompok anak pada umumnya, karena mereka memerlukan pelayanan yang bersifat khusus, seperti pelayanan medis, pendidikan khusus maupun latihan-latihan tertentu yang bertujuan untuk mengurangi keterbatasan dan ketergantungan akibat kelainan yang diderita, serta menumbuhkan kemandirian hidup dalam bermasyarakat.

Klik: Foto-foto Kegiatan Seminar ABK di Gedung Siola Tunjungan Surabaya

Nah, orang tua berperan penting terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Orang tua yang memiliki anak dengan disabilitas membutuhkan kemampuan dan dukungan ekstra dalam merawat anak dengan disabilitas.

Untuk menjembatani kebutuhan para orang tua dalam merawat anaknya yang memiliki keterbatasan dibanding anak lain seusianya, Dinas Kesehatan Kota Surabaya menggelar seminar untuk orang tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Tidak tanggung-tanggung, seminar ini dilaksanakan selama lima hari mulai tanggal 20-23 dan 25 November 2017 yang bertempat di Hall Lantai 4 Gedung Siola, Jl. Tunjungan, Surabaya.

Selain orang tua dari ABK, turut diundang para Kepala Sekolah Inklusi, Sekolah Luar Biasa (SLB) dan juga kader Puskesmas yang juga concern terhadap tumbuh kembang ABK.

Kegiatan seminar untuk orang tua ABK ini merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan dalam hal perawatan dan terapi anak dengan disabilitas/ABK.

Di hari pertama seminar, beberapa narasumber menyampaikan materinya terkait ABK. Materi pertama adalah “Menyelami Keunikan Anak  Berkebutuhan Khusus dan Setiap Anak Adalah Bintang” yang disampaikan oleh dr. Ergia Latifolia, Sp. A dari Puslit Humaniora dan Manajemen Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Dihadapan puluhan peserta seminar yang hadir, dr. Ergia menyampaikan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mengalami keterbatasan atau keluarbiasaan, baik fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional yang berpengaruh secara signifikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Kategori ABK

Lebih lanjut dr. Ergia mengatakan, ada beberapa kategori dalam ABK, yakni Sindrom Down yang disebabkan adanya kelainan kromosom. Lalu Autisme yang penyebabnya masih belum bisa dipastikan, apakah dari genetik atau gangguan neurotransmitter di otak. Lanjutnya ada Celebral Palsy yakni kelainan yang tidak progresif dari gerakan dan sikap tubuh karena kerusakan otak yang terjadi pada periode awal pertumbuhan otak yang pada umumnya dibawah 3 tahun.

Selanjutnya ada ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder yang disebabkan oleh suatu gangguan keseimbangan kimia (zat neurotransmitter) di otak sehingga kekurangan zat neurotransmitter untuk aktivasi.

Ada pula kategori “Kesulitan Belajar Spesifik” yaitu anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus, terutama dalam hal kemampuan membaca (Disleksia), menulis (Disgrafia), berhitung atau matematika (Diskalkulia).

Lanjutnya ada Tuna Grahita atau juga biasa disebut retardasi mental/disabilitas intelektual, yakni anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata (IQ dibawah 70) sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.

Yang terakhir adalah Tuna Daksa, Tuna Rungu dan  Tuna Netra, yakni anak yang mengalami keterbatas di organ spesifiknya.

Dari beberapa kategori ABK diatas maka penanganan setiap ABK sangat berbeda dari satu dengan yang lainnya karena masing-masing memiliki karakter yang unik dan butuh pendekatan berbeda untuk setiap anak.

Ia pun menghimbau kepada setiap orang tua yang memiliki ABK harus menyesuaikan harapan dan kondisi dan kemampuan ABK. “Jangan paksa Anak Berkebutuhan Khusus harus memiliki performa yang sama dengan mereka yang tidak memiliki kebutuhan khusus,” ujarnya mewanti-wanti para orang tua yang ingin anaknya “sesempurna” anak lainnya.

Jangan Sepelekan Buku KIA

Lalu bagaimana penanganan terhadap ABK? Dr. Ergia menjelaskan, para orang tua harus mengerti tahap perkembangan buah hatinya sejak lahir. Dokter yang concern mendalami ABK ini lantas menunjukkan Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) di layar LCD.

“Buku KIA ini berisi banyak sekali informasi terhadap tumbuh kembang bayi dan balita, termasuk perkembangan janin saat kehamilan. Tapi permasalahannya, apa orang tua (yang memiliki bayi dan balita, Red) sudah membaca buku KIA? Banyak yang datang ke saya (untuk berkonsultasi) tetapi Buku KIA tidak dibawa. Padahal buku KIA itu sebagai acuan data tumbuh kembangnya bayi.”

Di akhir presentasinya, dr. Ergia memberikan pesan kepada semua orang tua yang memiliki ABK, bahwa tetap semangat dalam merawat buah hatinya. “Tak mungkin Tuhan memberikan anak istimewa kepada orangtua biasa,” ujarnya menutup presentasi pagi ini. (And)