23 Jan
2017

Agis Baliho 1000 HPK copy web lama

Surabaya, eHealth. Setelah sukses di gelaran Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pertama bulan November tahun lalu, kini Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan kembali menggelar Gerakan 1000 HPK yang rencananya dilaksanakan tanggal 25 Januari 2017 mendatang yang bertempat di gedung Balai Pemuda Surabaya.

Gerakan 1000 HPK yang terus digalakkan oleh Dinkes Kota Surabaya adalah sebuah gerakan mengenai promosi kesehatan tentang pentingnya pendampingan 1000 HPK di Kota Surabaya.

Sedangkan tema dari Gerakan 1000 HPK ini adalah “Membangun Bangsa Sehat Berprestasi melalui Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Penguatan Kualitas Gizi masyarakat.

Rencananya, Wali Kota Surabaya DR (HC) Ir. Tri Rismaharini, MT akan hadir dan memberikan arahan langsung mengenai gerakan yang dimulai sejak seseorang menjadi calon pengantin hingga memiliki anak sampai usia 2 tahun ini.

Acara gerakan 1000 HPK yang akan dimulai pukul 06.00 WIB ini akan diisi dengan berbagai macam kegiatan, seperti penampilan seni teater yang bertema 1000 HPK, pentas seni tarian anak-anak bertema cuci tangan pakai sabun, talkshow gerakan 1000 HPK dengan berbagai narasumber ahli yang terpercaya seperti dari Perkumpulan Obstertri Ginekologi Indonesia (POGI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), RSUD Dr. Moh Soewandhie, dan Akademi Gizi Surabaya.

Acara ini pun terbuka untuk masyarakat umum, sehingga merupakan kesempatan emas untuk mendapatkan ilmu mengenai pentingnya gerakan 1000 HPK.

Seperti diketahui, 1000 Hari Pertama kehidupan adalah periode percepatan tumbuh kembang yang dimulai sejak terbentuknya janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

Mengapa 1000 HPK menjadi sangat penting? Hal ini dikarenakan kesehatan ibu serta anak adalah penentu kualitas sumber daya manusia.

Kesehatan ibu dan status gizi pada masa sebelum hamil, saat pembuahan, selama hamil, nifas dan menyusui serta kesehatan bayi mulai janin, dilahirkan sampai dengan berusia dua tahun yaitu pada periode 1000 hari, yaitu 270 hari sejak pembuahan, selama kehamilan dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya, merupakan periode yang sangat kritis yang berpotensi kearah angka kejadian kematian ibu, bayi, balita serta angka kejadian balita gizi buruk dan balita pendek.

Oleh karena itu, masa sebelum menikah yaitu saat menjadi calon pengantin memerlukan persiapan yang matang baik secara fisik, psikologis dan sosial. Hal ini tidak hanya untuk calon pengantin wanita, tetapi juga pasangannya.

Penjelasan tentang perkawinan dan penyuluhan kesehatan reproduksi sangat diperlukan untuk dapat membentuk keluarga yang sejahtera dan menghasilkan generasi penerus yang berkualitas.

Angka Kematian Ibu menunjukkan rawannya derajat kesehatan ibu yang sangat mempengaruhi kondisi kesehatan janin yang dikandungnya. Kejadian lahir mati dan kematian bayi dipengaruhi oleh kondisi kehamilan, komplikasi pada ibu dan bayi baru lahir, serta pertolongan persalinan disamping kondisi yang berkaitan dengan perawatan bayi baru lahir.

Menjaga kesehatan janin di dalam kandungan ibu, mencegah penularan penyakit dari ibu ke anak, menstimulasi perkembangan otaknya (brain booster) dapat meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan janin selama dalam kandungan ibu.

Pemeliharaan kesehatan bayi sampai dengan usia dua tahun (baduta), stimulasi dan deteksi dini tumbuh kembang serta menjaga status gizinya harus dilakukan agar dapat diperoleh kehidupan anak yang optimal. Anak yang sakit dan kurang gizi akan tumbuh lebih pendek dan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif sehingga akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan, serta menurunkan produktivitas pada usia dewasa. (And)