30 May
2018

Cegah Bibit Terorisme Melalui Peran Bumantik

Surabaya, eHealth. Tragedi bom bunuh diri yang dua pekan silam menghantui Kota Surabaya terus ditindaklanjuti upaya-upaya pencegahannya. Salah satunya melalui peran para Bumantik.

Walikota Surabaya Ir. Tri Rismaharini berbicara penuh semangat di podium Graha Sawunggaling yang bertempat di lantai 6 Gedung Sawunggaling Surabaya hari Rabu, 30 Mei 2018. Di hadapannya tampak sekitar 600 ibu pemantau jentik (bumantik) yang menghadiri acara bertajuk Pengarahan Kader Ibu Pemantau Jentik Kota Surabaya, yang juga dihadiri oleh sekitar 140 Lurah se-Kota Surabaya.

Kehadiran bumantik ini bukan dalam rangka peningkatan kapasitas mereka dalam menangani masalah penyebaran nyamuk demam berdarah yang berisiko menyebarkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) seperti biasanya namun terkait dengan pencegahan tindak terorisme yang saat ini menjadi momok tersendiri di Kota Surabaya khususnya, menyusul serangan bom di Kota Pahlawan beberapa pekan lalu.

Bumantik diharapkan menjadi pihak terdepan dalam mendeteksi hal-hal tak lazim yang didapati saat memeriksa rumah warga dari penyebaran jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti. Bumantik dianggap dapat masuk dan diterima dengan baik di dalam rumah oleh warga karena warga sudah mengenal dan mengetahui tujuan dari kunjungan bumantik. Sehingga jika bumantik menemukan hal-hal mencurigakan di rumah warga, bumantik dapat sesegera mungkin melakukan tindakan-tindakan preventif.

Salah satu tindakan tersebut adalah dengan menggunakan aplikasi Sipandu (Sistem Informasi Pantauan Penduduk). Aplikasi besutan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya ini hadir untuk mengantisipasi bibit-bibit terorisme di Kota Surabaya.

Aplikasi ini juga dapat dipakai untuk meningkatkan interaksi antara para ketua RT/RW serta memahami kehidupan warganya. Dengan begitu mereka dapat mendeteksi perilaku atau tindakan yang menyimpang dari warganya sejak dini. (Fns)