06 Mar
2012

Surabaya, eHealth. Screening kesehatan jiwa terhadap anak-anak jalanan pada tahun 2011 telah dilakukan, namun belum membuahkan hasil yang maksimal. Kini Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya kembali mengadakan screening kesehatan jiwa terhadap anak-anak jalanan, hari Selasa (6/03/2012) di Panti Rehabilitasi Anak Jalanan Wonorejo.

 Penyebab kurang maksimalnya screening ini karena dilakukan dengan tes tertulis secara bersama-sama. Sedangkan dari sekian anak-anak itu belum bisa baca tulis dan perbendaharaan katanya tidak banyak, sehingga mereka tidak bisa mengungkapkan isi hatinya lewat tulisan.

Oleh karena itu, kali ini screening dilakukan dengan wawancara langsung kepada anak-anak. Screening dilakukan terhadap 36 anak yang berada di Panti Rehabilitasi anak jalanan dari segala usia mulai dari yang belum sekolah, SD dan SMP.

Asal usul anak-anak tidak hanya dari Surabaya saja, tetapi banyak juga dari luar Kota Surabaya. Generasi penerus bangsa ini dikumpulkan oleh Satpol PP dari berbagai jalanan di Kota Surabaya, kemudian ditempatkan di Panti Rehabilitasi Anak Jalanan Wonorejo. Hal ini bertujuan agar anak-anak tersebut dapat dibina seperti anak seusianya.

Screening dilakukan karena anak jalanan itu tidak seperti anak pada umumnya, psikologisnya terganggu karena permasalahan yang kerap dihadapi anak-anak tersebut sangat kompleks. Bukan hanya sekedar anak jalanan, tetapi kemampuan intelektualnya pun sangat rendah dibanding anak-anak seusianya,” tukas Oktri Lia Frida, S.Psi MP.Si, Psikolog dari Dinkes Kota Surabaya.

Psikolog yang akrab disapa Oktri ini melanjutkan, gangguan psikologis ini dikarenakan anak-anak jalanan sangat dekat dengan kekerasan. ”Mereka sangat dekat dengan kekerasan, mulai dari keluarganya yang KDRT (kekerasan Dalam Rumah Tangga), terabaikan, tidak disekolahkan, ataupun kehidupannya yang tidak layak. Secara kelayakan mereka tidak mendapatkannya, untuk itu mereka mengamen di jalanan dan uangnya untuk makan,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Dinkes Kota Surabaya bertugas untuk memeriksa kesehatan mentalnya, apakah mereka termasuk anak-anak sehat ataukah tidak. Kriteria anak sehat secara mental yakni anak tersebut mendapatkan haknya yaitu pendidikan, bermain dengan teman-temanya dan kelayakan hidupnya.

”Hendaknya sama dengan anak-anak seusianya, bisa baca tulis, apakah mereka mendapatkan haknya itu padahal mereka punya kemampuan untuk belajar membaca dan menulis,” lanjut Oktri.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dinkes Kota Surabaya dan juga Puskesmas Medokan Ayu bekerjasama dengan Psikiater RS Jiwa Menur mewawancara anak-anak langsung yang berada di panti Rehabilitasi. Dari hasil wawancara itu jika ditemui gangguan perilaku yang aneh seperti halnya termenung dan melamun bisa segera teratasi.

Pada wawancara itu hadir langsung dr. Hendro Rianto SpKJ, M.M, Psikiater dari RSJ Menur untuk mendiagnosis anak-anak apakah kemampuan anak-anak itu sama dengan anak seusianya. Tidak hanya itu saja, pada wawancara tersebut akan dicari, apakah ada gangguan psikotiknya atau ada penyimpangan perilaku seksualnya dan apakah perilaku menyimpang lainnya seperti pencurian yang mereka lakukan itu taraf wajar sebagai kenakalan remaja atau penyimpangan.

Jika terdapat anak-anak yang mengalami penyimpangan atau gangguan psikologis, maka akan ditindaklanjuti. Dari beberapa kasus, hampir sebagian besar anak di panti rehabilitasi tersebut pernah mengalami tindak kekerasan.

Kerjasama yang terjalin dengan RSJ Menur untuk menentukan rencana awal yang selanjutnya akan dijalankan oleh Dinkes Kota Surabaya dan juga Puskesmas Medokan Ayu. ”Nantinya bakal dikembangkan di empat Puskesmas lagi, sehingga tidak hanya mengobati fisiknya saja tetapi secara psikologis juga,” pungkas psikolog lulusan Ubaya ini. (Ima)