29 May
2015

Aditia Lepas Dari Jeratan Narkoba Karena Anak

Surabaya, eHealth. Sudah sejak pagi, Basri Aditia datang ke Taman Flora Bratang untuk mengikuti gathering yang diadakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Surabaya, hari Jumat (29/05/2015). Ia pun hadir bersama istri dan buah hatinya yang berusia satu tahun. Lelaki yang akrab disapa Adit ini tidak datang sendirian, lebih dari 50 orang juga hadir untuk mengikuti gathering yang pertama kali diadakan pada tahun 2015 ini.

Memang, KPA Kota Surabaya bersama Dinas Kesehatan Kota Surabaya menggelar gathering. Tidak main-main, peserta gathering ini merupakan mantan pecandu Narkoba, terutama Pengguna Narkoba Suntik (Penasun) di bawah pengawasan enam Puskesmas Harm Reduction di Surabaya yang memiliki Layanan Alat Suntik Steril (LASS) yakni Puskesmas Kalirungkut, Jagir, Manukan Kulon, Dupak, Tenggilis, dan Puskesmas Sawahan.

Tidak hanya itu saja, KPA Kota Surabaya juga menganjurkan kepada peserta untuk mengajak pasangan dan juga anak-anaknya. Tujuannya, agar dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mantan Penasun tentang pentingnya layanan kesehatan bagi dirinya dan pasangan, sehingga nantinya Penasun secara mandiri datang ke tempat layanan kesehatan seperti Puskesmas.

Acara yang dimulai jam sembilan pagi ini dibuka oleh Sekretaris KPA Kota Surabaya, dr. Sophiati Sutjahjani, M.Kes, dilanjutkan dengan pembagian kelompok untuk masing-masing peserta. Nantinya, tiap kelompok berkeliling Taman Flora untuk mengikuti beragam games yang sudah ditentukan oleh panitia. Seperti menyanyikan yel-yel, menjawab kuis seputar harm reduction, memasukkan paku dalam botol hingga kuis tanya jawab antarpasangan.

Meski permainan tersebut terkesan seperti anak-anak, namun Adit tetap semangat mengikuti setiap permainan tersebut bersama istri dan anaknya. Saat ditemui tim eHealth seusai gathering, lelaki yang tinggal di kawasan Rungkut ini mengisahkan testimoninya tentang bagaimana dirinya mampu keluar dari lingkaran Narkoba suntik. “Anak menjadi motivasi,” ujarnya singkat seraya tersenyum ke buah hatinya yang tidak bersedia ditulis namanya saat ditanya apa yang mendorongnya berhenti menjadi pecandu.

Ia lalu menceritakan, sesungguhnya tidak ada pecandu yang benar-benar sembuh dari keinginan mengkonsumsi Narkoba. “Yang membedakan adalah seberapa kuat motivasi sang pecandu untuk menolak dorongan mengkonsumsi barang haram tersebut,” urai Adit yang mengenal dunia Narkoba suntik sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama tersebut.

Namun, seburuk-buruknya masa lalu bagi mantan Penasun, ia masih memiliki impian masa depan yang lebih baik seperti orang lain pada umumnya. “Saya ingin ibadah Umroh sama keluarga,” tutupnya saat menjelaskan apa impian terbesarnya.

LASS Minimalisir Dampak HIV-AIDS

Data dari KPA Kota Surabaya menyebutkan, salah satu penularan virus HIV-AIDS adalah melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian di kalangan pengguna Napza. Berdasarkan hasil pemetaan Penasun pada bulan Juni 2014, Surabaya menduduki nomor satu dengan jumlah Penasun terbanyak di Jawa Timur.

Data terakhir Dinkes Kota Surabaya tahun 2014, jumlah kumulatif kasus HIV-AIDS sudah mencapai 8,017 kasus. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2013 yaitu sebanyak 7,082 kasus. Salah satu penularan HIV-AIDS di kota pahlawan ini yakni melalui jarum suntik. Kasus baru HIV-AIDS dalam populasi IDU (Injecting Drug User/Penasun) meningkat menjadi 12,6%.

Tersedianya Layanan Alat Suntik Steril (LASS) pada enam Puskesmas di Surabaya untuk meminimalisir dampak HIV-AIDS pada Penasun. Salah satu keberhasilan program ini antara lain selain Penasun mengakses LASS di Puskesmas, mereka juga mengakses layanan kesehatan lainnya yang tersedia.

Adanya LASS di enam Puskesmas bukan berarti tanpa tantangan, masih banyaknya Penasun yang enggan untuk mengakses langsung Puskesmas yang telah menyediakan LASS karena berbagai kendala, termasuk stigma masyarakat terhadap Penasun.

Kebijakan pemerintah pusat terkait integrasi layanan pengurangan dampak buruk ke dalam sistim kesehatan masyarakat serta penguatan kelompok Penasun merupakan bekal untuk mengatasi hambatan serta meningkatkan cakupan layanan program demi terciptanya lingkungan yang kondusif bagi layanan Harm reduction di Surabaya.

Dalam mengatasi dan meningkatkan layanan Harm Reduction, diperlukan kolaborasi program yang baik antar lintas sektor, seperti Puskesmas, KPA, Dinas Kesehatan dan LSM. Selanjutnya perlu dibangun suatu lingkungan yang lebih kondusif agar Penasun mau mengakses langsung ke layanan kesehatan. Salah satunya dengan gathering seperti ini. (Fns/And)