30 Sep
2019

Upaya-upaya pemberian informasi seputar gizi kepada masyarakat sebagai bagian dari kampanye dan komunikasi perubahan perilaku telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya sebagai bentuk kolaborasi antara Dinas Kesehatan, PKK Kota Surabaya dan The Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN). GAIN adalah salah satu NGO dari Genewa, Swiss yang konsentrasi terhadap persoalan gizi.

Asal Mula Intervensi GAIN di Surabaya

GAIN membantu Surabaya sejak Juni 2018 melalui program Baduta 2.0 dengan metode Komunikasi Perubahan Perilaku Emo Demo, yang diterapkan melalui kegiatan posyandu sampai saat ini. Kegiatan GAIN sendiri dimulai dari serangkaian pelatihan Master of Trainer (MOT) tingkat kota Surabaya, Training of Trainers (TOT) untuk PKK dan tenaga kesehatan, hingga pelatihan kader di tingkat kelurahan sebagai ujung tombak dari pelaksanaan pemberian informasi kepada ibu hamil dan ibu balita untuk perubahan perilaku.

Sejumlah 1616 posyandu dari 17 kecamatan di Kota Surabaya yang diintervensi oleh GAIN telah menerapkan 12 modul Emo Demo terkait informasi ASI Esklusif, camilan dan pemberian makan bayi dan anak, makanan sumber zat besi untuk ibu hamil dan cuci tangan pakai sabun selama 12 Bulan.

Pertemuan Lanjutan Rutin

Tidak kalah pentingnya, kegiatan ini selalu dilanjutkan dengan pertemuan rutin 3 bulanan untuk memantau dan melihat perkembangan kegiatan. Selama 4 hari, Dinas Kesehatan dan PKK Surabaya menggelar pertemuan yang melibatkan Tim Penggerak PKK tingkat kecamatan dan kelurahan pada tanggal 17, 18, 19 dan 25 September 2019. Tim dari puskesmas terdiri dari Kepala Puskesmas, Bidan Kelurahan, Master of Trainer dan tim monitoring beserta team GAIN di masing-masing wilayah Surabaya baik Barat, Selatan, Utara dan Timur. Kegiatan ini dilakukan di ruang pertemuan Puskesmas Balongsari, Pakis, Bulak Banteng dan Medokan Ayu.

Rangkaian acara dimulai dari presentasi Dinas Kesehatan Kota Surabaya terkait pelaksanaan dan capaian program Baduta 2.0 kota Surabaya. Dilanjutkan dengan diskusi berdasarkan wilayah puskesmas tentang peningkatan capaian dan bagaimana membangun keberlangsungan kegiatan Emo Demo di Surabaya.

“Semua Posyandu yang menjadi wilayah intervensi Gain sudah melaksanakan Emo Demo yang berjumlah 12 modul. Bahkan ada yang mengembangkannya di tempat lain atau di luar Posyandu. Untuk pelaksanaan Emo Demo di tempat lain (di luar Posyandu) tidak semua modul wajib disampaikan, tapi harus sesuai dengan kebutuhan, misalnya di sekolah jenjang SD maka cocoknya adalah modul camilan sembarangan dan modul makanan beragam dan seimbang, yang dalam sehari sebaiknya hanya disampaikan 1 modul. ”Modul ditarik ke segala arah cocok dibawakan di kelas ibu hamil, kumpulan ibu-ibu, misalnya di arisan-arisan,” ujar dr. Kartika Sri Redjeki, M.Kes, Kasie Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kota Surabaya. Menurut dr. Tika, panggilan akrabnya, modul ini adalah modul yang kelihatannya paling susah.

Berdasarkan hasil diskusi, setiap wilayah intervensi akan menerapkan metode Emo Demo ini tak hanya di posyandu melainkan juga di kegiatan kelas ibu, PAUD, Bina Keluarga Balita (BKB), Kampung ASI, Paguyuban Kader, Puskesmas, atau di tempat tempat lain yang memungkinkan mengingat metode ini sangat interaktif dan menyenangkan. Sebagaimana diungkapkan oleh kasie Promkes Dinkes Surabaya drg. Candra Kusumawardhani, M.Kes di Puskesmas Pakis.

“Kegiatan Emo Demo ini menarik karena memberikan variasi baru pemberian informasi. Kegiatan ini bisa juga dimasukkan dalam Rencana Usulan Kegiatan (RUK) sebagai bagian dari keberlanjutan kegiatan ini. Selain di posyandu, juga bisa dilakukan di kegiatan yang lainnya misalnya saat ini sudah dimasukkan dalam 100 kegiatan kampung ASI. Saya harapkan meskipun 12 modul sudah berakhir, semua stakeholder tetap akan melanjutkan kegiatan ini dengan istiqomah.”

Dinas Kesehatan Kota Surabaya, PKK Kota Surabaya dan GAIN Indonesia berfoto bersama peserta kecamatan terintervensi GAIN.

Selain mendiskusikan dan mengintegrasikannya dalam kegiatan terkait, yang tak kalah penting adalah bagaimana proses monitoring kegiatan yang sudah berjalan. Hasilnya, kegiatan yang selama ini sudah berjalan akan dilaporkan melalui kader ke TOT yang kemudian dilanjutkan ke bikel dan puskesmas, untuk kemudian dikirim ke Dinas Kesehatan agar kegiatan bisa tercatat dan terpotret dengan baik.

Menjadi tanggung jawab bersama semua stakeholder untuk mendukung Gerakan 1000 HPK agar menelurkan generasi-generasi yang sehat dan kuat. Melalui kerjasama GAIN, PKK Kota Surabaya, dan Dinas Kesehatan, kegiatan ini patut diacungi jempol dan mendapatkan apresiasi. Ke depannya, diyakini jumlah posyandu pada pertemuan selanjutnya akan bertambah, bukan hanya pada wilayah intervensi tetapi juga non intervensi. (oleh Wiwik Sulistyorini, Training Coordinator Surabaya GAIN Indonesia/Fns)