24 Mar
2015

Surabaya, eHealth. Banyak anak muda sekarang yang kurang bisa berkomunikasi dengan baik kepada orang yang lebih tua, terutama para Lanjut Usia (Lansia). Perbedaan usia yang cukup jauh serta adanya gap generasi yang memiliki karakter berbeda menjadi salah satu penyebab sering adanya miskomunikasi antara orang muda dengan lansia.

Hal ini disampaikan oleh dr. Erikavitri Yulianti, Sp.KJ saat menyampaikan materi tentang “Menjalin Komunikasi Antar Generasi Pada Keluarga Pasien Lanjut Usia” di hadapan puluhan perawat Puskesmas Se-Surabaya saat kegiatan Optimalisasi Kesehatan Jiwa Masyarakat Bagi Petugas Perawat Puskesmas yang bertempat di Graha Arya Satya Husada, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, hari Selasa (24/03/2015).

Lanjut dr. Erika mengatakan, kita sebagai generasi muda yang menjalin komunikasi kepada Lansia haruslah memperlakukan mereka dengan bijaksana dengan cara yang mudah diterima oleh Lansia.

Cara tersebut diantaranya mengenali masalah kesehatan dan merawat Lansia di dalam lingkungan keluarga. Karena dengan cara seperti itulah para Lansia akan berinteraksi terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu saja, dokter spesialis kejiwaan ini juga memberikan penjelasan bahwa tiap generasi yang berbeda juga membedakan gaya berkomunikasi.

Oleh karena itu dr. Erika memberikan pengertian mengenai definisi komunikasi antar generasi, yakni suatu interaksi yang melibatkan individu dari generasi atau umur yang berbeda. Seperti orang tua ke anak, kakek ke cucu, atau tante ke keponakannya.

Ia lalu menjelaskan, seseorang yang lahir medio tahun 1922–1945 gaya berinteraksinya masih bersifat individual, dan cara berkomunikasinya masih formal, dengan melalui surat-menyurat maupun memo. Sedangkan gaya berinteraksi seseorang yang lahir medio tahun 1981–2000 sudah bersifat partisipatif dengan cara berkomunikasi melalui banyak sumber yakni berupa email, sms, voice mail hingga chatting.

Untuk menjembatani permasalahan komunikasi antargenerasi tersebut, dokter yang kesehariannya bertugas di Divisi Psikiatri Geriatri – Dept. Psikiatri Fakultas kedokteran Universitas Airlangga ini menjabarkan pengertian tentang Communication Accommodation Theory yang artinya seseorang akan menyesuaikan gaya dan kecepatan bicara tergantung pada siapa lawan bicaranya, termasuk kepada Lansia.

Namun dr. Erika mengingatkan, meski menyesuaikan gaya bicara terhadap Lansia, namun jangan sampai over accommodation, yakni berlebihan dalam menanggapi lawan bicara. Hal ini biasanya terjadi lantaran adanya stereotype Lansia, yaitu gangguan pendengaran, gangguan memori, hingga dependen (pasrah terhadap kondisi diri sendiri). Sehingga bila kita terlalu over accommodation, yang terjadi justru Lansia tersinggung dengan tindakan kita.

“Berlebihan dalam menanggapi lawan bicara yang juga disebut Patronizing Speech seperti menyederhanakan kalimat misalnya ‘Ini makanan rasanya enak sekali’ disederhanakan menjadi ‘Ini enak.’ Bisa juga mengeraskan volume suara dan mengurangi kecepatan bicara karena menganggap Lansia pendengarannya berkurang. Ada juga yang menggunakan istilah yang biasanya digunakan untuk bayi, seperti ‘makan’ menjadi ‘mam-mam.’ Kalimat-kalimat inilah yang terkadang justru membuat mereka seperti direndahkan,” ujar dr. Erika.

Karena beragam permasalahan tersebut diatas, dr. Erika berpesan kepada perawat yang hadir dalam kegiatan ini agar memperlakukan pasien Lansia dengan mandiri dan berkompeten, yakni dengan mempercayai bahwa Lansia bisa melakukan aktifitas yang menurut mereka bisa dilakukan sendiri.

“Sebab itulah tugas kita adalah kita membantu para Lansia itu untuk mepercayai mereka bahwa mereka bisa untuk melakukan (beragam kegiatan) itu (secara mandiri),” ungkap dr. Erika. “Tidak hanya itu saja, kita harus mengerti apa keluhan yang mereka sampaikan, baik fisik maupun psikisnya.”

Untuk membantu mengurangi rasa cemas terhadap keluhan yang ia derita, bukan hanya sebatas memberikan pengertian kepada Lansia, namun juga saling berkolaborasi antar generasi, seperti melakukan kegiatan diluar rumah atau bercocok tanam bersama-sama.

Dengan adanya kegiatan seperti diatas, mereka akan mengikuti generasi muda yang mengajak para Lansia untuk bermain bersama. Ibaratnya, imbuh dr. Erika, seorang cucu akan mencari kakek atau neneknya untuk berkomunikasi dan kakeknya pun membutuhkan cucunya untuk berbagi pesan dan pengalaman hidup. (Don/And)