09 Oct
2019

Peserta undangan Rapat Evaluasi tiga bulanan Emo Demo Wilayah Surabaya Timur sedang melakukan yel-yel Rumpi Sehat. Dinkes Kota Surabaya berkomitmen meneruskan program emo demo menjelang berakhirnya GAIN di Kota Surabaya. / Foto : Andi Sahrial

Oleh : Jalil, District Coordinator GAIN Kota Surabaya

Surabaya, eHealth. Program Baduta 2.0 yang merupakan kerjasama antara Kementerian Republik Indonesia dengan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) di kota Surabaya dimulai pada bulan Mei tahun 2018 dan akan berakhir pada bulan Juni tahun 2020. Program Baduta 2.0 merupakan tindak lanjut dari program Baduta 1.0 yang sudah dilakukan pada tahun sebelumnya di Kabupaten Malang dan Sidoarjo. GAIN sendiri bertujuan mendukung terjadinya perubahan perilaku orang tua pada pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA) yang pada akhirnya “stunting” dapat dicegah sejak dini terutama pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).

Saat ini GAIN melalui programnya Baduta 2.0 di kota Surabaya bekerja di 86 kelurahan (dari 154 kelurahan), 17 Kecamatan (dari 31 Kecamatan) dengan jumlah sasaran posyandu 1.616 yang tersebar di 33 Puskesmas. Untuk mewujudkan tujuannya, GAIN bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan PKK. Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah penguatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan. Model pelatihan yang dilakukan adalah melalui pelatihan berjenjang, yaitu dimulai dari pelatihan master pelatih (MOT), Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainer) dan Pelatihan untuk Kader Posyandu. Dari pelatihan tersebut telah mampu mencetak 55 MOT yang sudah melatih 503 TOT dan 503 TOT telah melatih 3.232 kader Posyandu.

Materi utama yang  dilatihkan kepada para pelatih di berbagai jenjang adalah metode emo demo (emotional demonstration), yaitu sebuah panduan kegiatan penyuluhan yang bertujuan untuk menyampaikan pesan sederhana yang dilakukan secara partisipatif, menyenangkan dan atau menyentuh emosi, serta menggunakan alat peraga sehingga membuatnya mudah diingat dan inovatif dibandingkan dengan strategi perubahan perilaku sebelumnya.

Sampai saat ini, metode emo demo tidak sekedar dilatihkan ke pelatih tetapi sudah dilaksanakan di tingkat posyandu di seluruh wilayah intervensi GAIN. Banyak perubahan yang sudah bisa dirasakan akibat pelaksanakan emo demo baik secara kuantitatif maupun kulaitatif.  Secara kuantitatif emo demo mampu mendongkrak tingkat kehadiran ibu balita ke Posyandu hingga 58%. Secara kualitatif emo demo mampu membuktikan adanya perubahan perilaku ibu balita atau pengasuh maupun stakeholder terkait. Tidak kurang dari 16 cerita perubahan paling bermakna (most significant change) diperoleh setiap bulan dari lapangan. Hal ini menunjukkan emo demo benar-benar bias mempengaruhi perubahan perilaku ibu balita terhadap pola pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA).

Perubahan yang paling bermakna lainnya, Dinas Kesehatan Kota Surabaya melalui TP PKK Kota Surabaya berhasil mereplikasi pelatihan emo demo keseluruh kelurahan di luar intervensi GAIN (68 kelurahan) dan tenaga kesehatan Puskesmas (Bidan, Bikor, Petugas Gizi dan Promkes) yang dilatih sendiri oleh Master Pelatih dari Dinas Kesehatan dan PKK yang merupakan produk pelatihan yang dilaksanakan oleh GAIN.

Pekerjaan rumah (PR) Dinas Kesehatan Kota Surabaya bersama dengan stake holder terkait lainnya menjelang berakhirnya intervensi GAIN adalah menjamin agar praktik-praktik yang baik (good practices) yang sudah berjalan selama ini bias ada keberlanjutan (sustainability). Untuk itu, melalui pertemuan koordinasi 3 bulanan yang dilaksanakan pada tanggal 17, 18, 19 dan 25 September 2019 yang lalu Dinas Kesehatan Kota Surabaya telah berhasil menjaring aspirasi dari stake holder yang terkait (Kader, PKK, Bidan Kelurahan, Kepala Puskesmas, Master Pelatih, Dinas Kesehatan) untuk menjawab 3 (tiga) masalah utama, yaitu :

  1. Bagaimana meningkatkan jumlah kehadiran ibu Balita/Pengasuh untuk mengikuti emo demo?
  2. Bagaimana menjamin keberlanjutan pelaksanaan emo demo?
  3. Bagaimana membangun sistim monitoring pelaksanaan emo demo?
Bagaimana Meningkatkan Jumlah Balita Yang menikuti Emo Demo? Bagaimana Menjamin Keberlanjutan Pelaksanaan Emo Demo? Bagaimana Membangun sistim Monitoring Pelaksanaan Emo Demo?
Di Posyandu Luar Posyandu
1. Dilaksanakan pada saat penimbangan, berdasarkan urutan kehadiran peserta penimbangan minimal 10 orang.

2. Pemberian doorprize bagi ibu balita (sumber dana : iuran RT/RW, jimpitan, CSR)

3. Mengundang ibu balita secara tertulis untuk datang saat Emo Demo.

4. Meningkatkan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan emo demo.

5. Melakukan emo demo lebih dari 1 kali.

6. Menyampaikan emo demo dengan bahasa lokal daerah setempat.

 

Perluasan Kegiatan emo Demo Di Paguyuban Kader, Lansia, PPT, Kampung ASI, Pertemuan PKK, Pertemuan RT/RW, Kelas Bumil dan Balita, Poskestren, Kampung KB, Di Ruang Tunggu Puskesmas, Paud, TK, SD, Ibu balita Pintar, Pengajian, Posyandu Remaja, Kelas Catin, Pos Gizi, Akademisi, Karang taruna, BKB, POSBINDU (POS BinaanTerpadu).

 

1.   Membentuk komite dengan lintas sektor dan kader.

2.   Harus ada komitmen dalam lintas sektor (paguyuban paud kecamatan, lurah, ketua RT/RW, PKK RT/RW, Ketua Kartar dan Kelompok Kader Remaja)

3.   Menjadikan emo demo sebagai rencana kerja UKBM.

4.   Menggalang kemitraan dengan akademisi untuk menjadi TOT Emo Demo.

5.   Melakukan inventaris dan perawatan properti emo demo.

6.   Melakukan refresh emo demo pada setiap pertemuan kader.

7.   Memasukkan emo demo kedalam RUK (Rencana Usulan Kegiatan) Puskesamas dan PKK Kecamatan.

8.   Melakukan pemantauan/monitoring kegiatan emo demo oleh petugas kesehatan puskesmas.

9.   Pemberian pelatihan emo demo secara berjenjang oleh TOT pada staff puskesmas, staff kelurahan, staff kecamatan dan kader yang belum dilatih.

10. Melakukan emo demo sesuai dengan jadwal dengan modul disesuaikan dengan kebutuhan.

11. Adanya surat edaran dari Dinkes dan PKK tentang pelaksanaan emo demo.

12. MOT masih tetap bisa menjalankan peran dan fungsinya melalui wadah paguyuban MOT.

 

1.   Surat edaran MONEV dari Dinkes dan PKK.

2.   Membentuk tim monitoring mulai  tingkat kelurahan, kecamatan dan puskesmas

3.   Melakukan pertemuan koordinasi monitoring pada pertemuan rutin PKK Kecamatan

4.   Adanya sistim pelaporan dari ketua paguyuban ke bikel kemudian ke PKM.

5.   Adanya sistim pelaporan dari ketua paguyuban ke PKK Kelurahan kemudian ke PKK Kecamatan.

6.   Adanya instrument/ format laporan yang seragam dans ederhana.

7.   Adanya daftar hadir peserta emo demo yang dilampirkan dalam laporan monitoring.

8.   Adanya media untuk melaporkan kegiatan emo demo via WA grup

9.    Adanya perekapan hasil monitoring yang disampaikan setiap 3 bulan.

 

Dari hasil diskusi kelompok pada pertemuan 3 bulanan, jawaban atas pertanyaan di atas dapat dibaca pada rangkuman di bawah ini :

Rangkuman hasil diskusi kelompok di atas masih bersifat draft kasar yang sudah barang tentu perlu didiskusikan lebih lanjut dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya sebagai pengambil kebijakan. Semoga rancangan konsep di atas segera bisa diformulasikan dalam tataran kebijakan sehingga dapat segera diimplemetasikan di lapangan. (jalil)