01 Mar
2014
IMG_0016e

ilustrasi : Seorang pegawai pengasapan ikan di daerah kenjeran surabaya, yang beresiko terhadap kanker nasofaring

Surabaya, eHealth. Kanker Nasofaring (KNF) adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Penyebab KNF, dikatakan oleh Prof. DR. dr. R. Sunaryadi Tejawinata, Sp. THT (K) dari RSUD Dr. Soetomo Fakultas Kedokteran Unair, disebabkan oleh adanya virus Epstein-barr.

Lanjut ia katakan bahwa KNF terbanyak di dunia terdapat pada daerah Tiongkok Selatan, terutama Provinsi Guang Dong dan negara-negara Asia lainnya. Namun di Indonesia secara nasional belum didapatkan data yang akurat. Namun, di RSUD Dr. Soetomo didapat data pada Poli Onkologi THT pada tahun 2013 terdapat 254 pasien baru dengan rangking pertama KNF, kedua Sinonasal dan ketiga laring.

Secara keseluruhan pada data di Poli Paliatif RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2013 terdapat 397 pasien baru, KNF menempati urutan keempat. Pertama Kanker Payudara, kedua Kanker Serviks, ketiga Kanker Paru dan keempat Kanker Nasofaring.

Faktor Risiko
Prof. Sun, begitu ia disapa mengatakan bahwa faktor risiko KNF yaitu sering mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet, termasuk makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan atau diasap. Seperti ikan asin, karena pada pembuatan ikan asin terjadi proses mikrosamin yang mengaktifkan virus Epstein-barr.

Selain makanan yang mengandung bahan pengawet, lanjutnya, sering mengonsumsi makanan dan minuman yang panas atau bersifat panas dan merangsang selaput lendir, seperti yang mengandung alkohol. Sering menghirup asap rokok, asap minyak tanah, asap kayu bakar, asap obat nyamuk, asap bahan bakar BBM atau asap candu juga mengaktifkan virus Epstein-barr. Selain itu, juga sebabkan oleh faktor genetik, yakni seseorang yang mewarisi keturunan KNF dari orang tuanya.

Sampai saat ini belum jelas bagaimana mulai tumbuhnya KNF. Namun penyebaran kanker ini dapat berkembang ke bagian mata, telinga, kelenjar leher, dan otak.

Disarankan jika yang berisiko tinggi terkena KNF, diharapkan untuk rajin memeriksakan diri ke dokter, terutama dokter THT. Risiko tinggi ini biasanya dimiliki oleh laki-laki atau adanya keluarga yang menderita kanker ini atau ada garis keturunan penderita KNF.

Gejala
Letak nasofaring yang tersembunyi di belakang hidung atau belakang langit-langit rongga mulut menyebabkan serangan kanker ini sering kali terlambat diketahui. Namun, biasanya pada stadium dini menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut.

Pertama di dalam telinga timbul suara berdengung dan terasa penuh tanpa disertai rasa sakit sampai pendengaran berkurang. Hidung sedikit mimisan, tetapi berulang. Hidung tersumbat terus-menerus, kemudian pilek.

Pada kondisi akut menunjukkan gejala sebagai berikut, kelenjar getah bening pada leher membesar. Juga mata menjadi juling, penglihatan ganda, dan mata bisa menonjol keluar dan sering timbul nyeri dan sakit kepala.

Pada tahap awal gejala pada sel-sel kanker masih berada dalam batas nasofaring, biasa disebut dengan naso-pharynx in situ. Pada stadium pertama sel kanker menyebar di bagian nasofaring. Kemudia pada stadium kedua sel kanker sudah menyebar pada lebih dari nasofaring ke rongga hidung. Atau dapat pula sudah menyebar di kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher.

Pada stadium lanjut yaitu stadium ketiga yakni  sel kanker sudah menyerang pada kelenjar getah bening di semua sisi leher. Serta pada stadium ke empat, kanker sudah menyebar di saraf dan tulang sekitar wajah.

Pengobatan
Pengobatan kanker nasofaring bisa dilakukan dengan radioterapi, kemoterapi, serta paliatif. Selain itu juga ada kombinasi tambahan lainnya untuk pengobatan kanker ini. Tindakan operasi tidak dilakukan untuk jenis kanker ini karena posisinya yang sulit dan dekat metastase kelenjar getah bening. Tindakan operasi (bedah) yang umum hanyalah biopsi, untuk stadium awal kanker ini jarang dilakukan biopsi.

Dalam pengobatan penderita kanker nasofaring, Prof. Sun mengajak semua tenaga kesehatan yang tergabung dalam Surabaya Bebas Nyeri Kanker (SBNK) untuk bisa nememukan penderita sedini mungkin agar prognesisnya lebih baik. (Ima)